Tradisi Makan Bajamba di Istana Pagaruyung

Lepas sholat jumat dimasjid samping istana Baso Pagaruyung, detik traveler kembali disuguhkan oleh sebuah tradisi kuno yang hingga kini masih dilakukan oleh masyarakat minang yaitu Makan Bajamba atau makan bersama. Memasuki halaman belakang istana yang luas, kami tiba disebuah saung panjang yang berhiaskan kain songket dan hiasan khas minang lainnya. Sebuah kolam besar dan pohon beringin raksasa menghiasi ruang makan tersebut.

Para penabuh musik mulai mendendangkan lagu dan para gadis penari muncul sambil membawakan tarian piring khas sumatera barat. Tarian yang rancak dan lincah menyambut kami sebelum memasuki ruang makan, setelah tarian selesai proses masih dilanjutkan.

Seorang mamak berpakaian adat minang menyambut kami dengan membawakan pantun dalam bahasa Minang yang secara harafiah berarti menyambut para tamu dengan senang hati dan tangan terbuka. Setelah pantun selesai, disebarkan beras kuning kepada para tamu sebagai rangkaian sambutan. Para tamu diharuskan melepaskan sepatu atau sandal ditangga masuk, tempat duduk pria dan wanita dipisah, tidak boleh digabungkan sesuai adat.

Puluhan tudung saji berhiaskan motif minang dijejerkan rapi dan kami para pria diharuskan duduk berempat mengelilingi tudung saji tersebut. Sambil duduk bersila, kami merasakan sensasi makan bersama khas minang tersebut. Tapi kami sebagai tamu tidak boleh makan terlebih dahulu sebelum kami memberikan kata sambutan. Tamu harus terlebih dahulu memberikan kata sambutan kepada sang tuan rumah sebagai ucapan terimakasih atas sambutannya yang hangat.

Kemudian sang tuan rumah membalas kata sambutan tersebut dengan kalimat yang sangat halus, tuan rumah menyilahkan kami sebagai tamu untuk makan hingga habis hidangan yang telah disajikan. Dan tuan rumah menyilahkan kami membuka tudung saji yang ada dihadapan para tamu.

Ketika dibuka tudung saji tersebut terdiri dari empat buah piring berisi sayur dan lauk khas minang. Sepiring sayur daun singkong, rendang, sambal pedas dan kripik singkong, tidak lupa kami makan menggunakan tangan kanan dan sudah disediakan bakul nasi serta mangkuk kecil untuk cuci tangan. Hawa yang sejuk dan rasa lapar membuat kami lahap menghabisi setiap sajian yang ada. Sebagai penutup disediakan penganan khas minang yang rasanya sungguh lezat.

Proses makan bajamba ini mempunyai filosofi sendiri yaitu belajar untuk menghormati yang lebih tua. Jadi kita harus mendahulukan orang yang lebih tua untuk mengambil nasi dan lauk yang disajikan. Memupuk kebiasaan berbagi, kita diajarkan untuk tidak rakus dan harus saling berbagi. Makanan yang disajikan tidak untuk dihabiskan sendiri, tetapi kita harus saling berbagi dan bahkan melayani orang lain. Makan bajamba ini biasanya bisa untuk 4 – 7 orang sekaligus dalam satu sajian.

Tidak diperkenankan menggunakan sendok garpu, makan bajamba harus dengan tangan sesuai ajaran Rasullah SAW. Makan dengan tangan kanan menurut penelitian juga baik untuk kesehatan dan mencegah cedera pada mulut, karena tangan bisa merasakan masakan yang panas sebelum kita makan.

Makan bajamba juga sebagai sunnah dari Rasullah SAW seperti makan dengan tangan kanan, makan secara bersama-sama, dan juga menyebut nama Allah SWT sebelum dan sesudah makan. Budaya minang memang kental akan budaya Islam yang sudah mengakar sejak ratusan tahun lalu, dan makan bajamba ini sebagai salahsatu pelestarian budaya serta pengikat antara masyarakat minang dikota serta para perantauan yang balik kampung. Sambil makan mereka bisa saling berbagi cerita semasa diperantauan dan pengobat rasa rindu akan kampung halaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s