My Travel Horror Story Part One

travel-horror-stories

Setiap perjalanan memberikan kisah tersendiri, ada yg menyenangkan, ada yg membuat bete dan bahkan ada yg membuat ngeri. Cerita saya kali ini mengisahkan beberapa kisah seram selama perjalanan traveling baik didalam negeri maupun ketika keluar negeri. Dan ini bukan rekayasa lho, karena semua saya alami sendiri…dimulai dari,

Hantu Penunggu Kamar 3311

Tidak perlu saya sebutkan dimana lokasi hotelnya, kisahnya terjadi satu bulan lalu ketika ada acara kantor. Hotel ini salahsatu yang paling luas dinusa dua dan saya sudah beberapa kali menginap dihotel bintang lima ini. Cuma kali ini memang saya request kamar yang dekat dengan meeting room agar memudahkan saya untuk bolak-balik dari kamar menuju kelokasi acara. Selesai check-in process selesai, saya mengikuti langkah bellboy menuju kekamar 3311 yang ternyata terletak dipaling ujung sekali. Wah lumayan juga jauhnya, tetapi masih siang jadi suasananya menyenangkan. Beberapa turis asing asik lalu lalang sehabis mereka berenang dipantainya yang indah.

img_20120330143144_4f756160837cf

Kamarnya pun menyenangkan dan cukup luas serta memiliki balkon dengan pemandangan pantai nusa dua yang wow. Selepas berganti baju, saya segera bergegas menuju keruang meeting room untuk beberes dengan pihak EO hingga malam tiba. Kerjaan baru selesai pukul 21.00 WITA dan saya kembali menuju kekamar. Kali ini suasananya sungguh berbeda, lampu remang-remang dan selasar yang sepi. Wah menegangkan juga kalau jalan sendiri, kebetulan saya berada dilantai empat dan diselasar bisa melihat kelantai bawah dengan kolam ikan berada tepat diantara kamar-kamar.

Tidak lama berselang, saya sekelibat melihat sesosok diselasar bawah menembus tembok. Hadeuhhh….apalagi itu! Buru-buru saya segera bergegas menuju kekamar yg terletak dipaling ujur selasar, bulu kuduk langsung merinding. Arghh…saya nggak mau pikir yang aneh-aneh lagi takut nanti ada yg muncul lagi.

Selesai mandi, saya bergegas ingin makan malam. Baru mau ambil jam tangan diatas meja, tiba-tiba pintu kaca dibalkon bunyi “gubrak”… Saya kaget setengah mati, untung ada saudara saya. Dia berusaha menenangkan dan cuma bilang, tenang aja angin mungkin. Tapi tak lama lagi pintu kaca seperti didorong dari luar, saudara saya cuma bilang, “Yuk. kita cari makan buruan. Laper neh”.

Okelah, kita berdua segera cari makan diresto padang dekat hotel. Karena sudah malam dan lapar banget. Selesai makan, kami kembali kehotel dan perjalanan dari lobby kehotel menuju kekamar seperti masuk kelorong waktu. Entah kenapa sepertinya perjalanan pulang kekamar terasa begitu lama. Kanan kiri kami gelap gulita, maklum butik-butik kecil dihotel sudah tutup dan lampunya dimatikan. Tempat main tenis juga gelap gulita, belum lagi lokasi spanya juga sudah gelap. Wow….selasar demi selasar kami lewati dan bulu kuduk semakin merinding. Saudara saya cuma bilang,”udah jangan nengok kanan kiri, jalan terus aja ya. Buruan kita kekamar”. Aduh rasanya kaki ini mau copot, kamarnya jauh banget. Akhirnya kami sampai dikamar dan tentu saja sebelum masuk kekamar mengucapkan salam. Entah pada siapa, saya selalu mengucapkan salam ketika memasuki kamar hotel yang akan saya tiduri dimana saja.

Ah ternyata ada barang yang saya titipkan diconcierge dan harus dibawa kekamar. Kemudian saya telpon pihak concierge untuk membawa barang tersebut kekamar. 15 menit kemudian pihak concierge membawa barang tersebut kekamar saya, sambil memindahkan barang-barang tersebut kekamar, saya bertanya ke petugas bellboy,”takut nggak sikh mas kalau malam-malam antar barang kekamar daerah sini?”

“Wah saya aja sering lari, mas. Kalau malam abis bawa barang kekamar tamu. Abis jauh dan disini lumayan serem sikh,” jawab bellboynya.

“Oh ya. Mas lari?”

“Iya. Apalagi lokasi dekat tempat tenis, disitu ada penunggunya mas kalau malam. Saya aja sering diganggu kalau lewat sana, dan teman-teman saya disini memang sering lihat yang ‘begituan’. Tapi kami sudah biasa sikh disini kalau lagi jaga malam,” jawabnya.

Setelah memberi dia tips, saya segera menutup pintu. Dan tidak lama berselang, saudara saya cepat-cepat tidur sambil menutup selimut. Saya tanya, kenapa sikh buru-buru tidur. Dia cuma bilang udah buruan tidur, cepetan. Hadeuh….biasanya ini kode kalau pasti dia melihat sesuatu lagi. Soalnya saudara saya itu punya indra keenam dan sering banget lihat mahluk halus.

Saya pun bergegas tidur dan entah kenapa tidak tenang malam itu. Saya membaca surat Ayat Kursi dan minta diberikan perlindungan. Dan saya kembali tertidur dengan pulas.

Esok paginya ketika makan pagi direstoran, saya tanya kesaudara saya perihal kejadian tadi malam. Dia cuma bilang, kalau ada seorang wanita yang masuk kekamar dan ‘dia’ cukup mengganggu serta bahkan kalau ditantang bisa memperlihatkan wujud aslinya. Wihhh…serem juga. Makanya saudara saya suruh saya cepat tidur karena mahluk halus itu berdiri tepat diujung tempat tidur kami.

Dia juga cerita kalau semalam mendengar suara kaki dibalkon dan bahkan suara anak kecil bermain dimalam hari. Yah beginilah resiko dapat kamar ditempat yg jauh. Tidak semua kamar pasti selalu dihuni oleh tamu, hotel dengan jumlah kamar ratusan pasti hanya full beberapa kali dalam setahun. Dan lebih sering kosong, hingga para penghuni dunia lain yang mendiami kamar.

bukan

Hantu Penunggu Kamar di Kuta

Cerita seram ini terjadi sekitar dua tahun lalu, saya sering menginap dihotel ini didaerah kuta. Karena murah dan letaknya yg strategis didaerah Kuta, selain itu cukup bersih serta mempunyai kolam renang dan ada warung makan halal yg enak pas dipintu masuk hotel tersebut. Sebut saja sebuah hotel bintang tiga dengan langgam bangunan khas Bali.

Kami mengambil beberapa malam dihotel tersebut karena kebetulan sedang ada event di Bali. Kamar yang biasa kami inapi sedang penuh dan ternyata pihak hotel punya kamar baru yang terletak dibagian belakang hotel. Berada dilantai tiga, kami menaiki tangga demi tangga, maklum tidak tersedia lift dihotel ini. Kamar barunya dengan desain minimalis dan sangat nyaman, dilengkapi TV LCD, pendingin ruangan yang baru dan kamar mandi yg cukup luas. Semuanya masih gres karena menurut petugas bellboy baru saja dibuka oleh pihak manajemen hotel.

Malam pertama, saya cukup sibuk mengerjakan sesuatu dengan laptop saya. Sementara saudara saya bergegas tidur, dia cuma pesan agar saya segera tidur karena besok pagi event akan berjalan. Entah pukul berapa mungkin dini hari sekitar jam 01.00 WITA, saya sedang asik bekerja dilaptop dan TV sudah saya matikan. Agar bisa konsentrasi, tiba-tiba ada yang memecah konsentrasi saya.

“Krek”, bunyi suara pintu terbuka.

Saya segera menengok kekanan dan kiri, saya kaget bukan kepalang ketika menemukan bahwa pintu kamar mandi terbuka sendiri. Padahal dari tadi pintu kamar mandi tertutup, saya panik bukan main. Saya langsung membangunkan saudara saya, dan saya bilang,”Ki, pintu kamar kebuka sendiri”.

“Hmmm….gw bilang juga apa, dari tadi gw suruh tidur cepet, bandel sikh lu!” kata saudara saya dengan enteng.

Saya bergegas menutup laptop dan saya beranikan diri menuju kekamar mandi untuk menutup pintu kamar mandi tersebut. Rasa penasaran pun tiba, koq bisa ya kebuka sendiri, gagang pintu kamar mandi masih baru dan lumayan berat untuk dibuka. Door knob harus diputar dulu baru bisa terbuka, jadi secara nalar, tuh door knob harus diputar terlebih dahulu agar pintu kamar mandi terbuka dari dalam.

Tapi nggak ada orang didalam kamar mandi, dan hanya ada ventilator udara diatas kamar mandi. Arghh….ya sudahlah mungkin ‘penghuninya’ mau kenalan dulu dan saya pun bergegas tidur.

Esok pagi setelah makan pagi direstauran, semua kembali normal. Kami bergegas kembali kekamar untuk segera check-out. Karena kali ini kami pindah kehotel bintang lima terbaru dikawasan nusa dua, dan saudara minta ijin untuk buang air dulu dikamar mandi sebelum kami check out.

Sambil menunggu saudara dikamar mandi, saya menyalakan TV dan ketika asyik menonton acara dahsyat di RCTI, tiba-tiba channel TV berubah kechannel TV Bali. Ah mungkin rusak remote controlnya atau kepencet tidak sengaja, tapi remote TV terletak sekitar 50 cm dari lokasi saya duduk diatas kasur.

Ya sudah saya ambil remote dan pindah keacara lainnya, selang beberapa menit kemudian pindah lagi ke channel TV Bali. Ya ampun ini kenapa lagi sikh, aduh ganggu mulu. Buru-buru saya ketok pintu kamar mandi dan minta segera cepat keluar dari kamar. Sudah cukup saya panik dua kali berada dikamar ini, nggak mau lagi deh saya diganggu lagi…

Selesai check-out, kami menuju kehotel  X dikawasan nusa dua. Selama perjalanan saya tanya kesaudara yang memang punya indra keenam.

“Ngapain sikh tuh setannya ganggu terus?”

“Dia emang suka ganggu tapi cuma kamu kasih tau aja kalau ‘dia’ tuh ada dikamar itu. Tapi nggak sampe munculin wajahnya. Gw dah bilang semalem buruan tidur, kagak percaya sikh lo kalau gw kasih tau. Gw aje lagi nonton TV tau-tau tuh remote TV dipindahin. Gw ambil lagi tuh remote, eh dimatiin tuh tipi. Ya udah gw pilih tidur aja.”

“Oh ternyata semalem tuh tipi mati sendiri?”

“Iye, dimatiin ama ‘penghuninye’, makanya gw males nonton. Mendingan gw tidur!”

Tibalah kami dihotel X yang sangat besar sekali dan tentu saja sangat mewah. Ketika check-in saya sudah pesan kamar yang tidak seram sama teman yang kebetulan bekerja dihotel tersebut. Wah kamarnya super mewah, closetnya bisa kebuka sendiri, kali ini bukan karena mahluk halus, tetapi karena sensor yang dipasang dipintu akan membuat closetnya kebuka sendiri.

Ada cerita lucu ketika salahsatu teman teriak ketika buka pintu closet, karena dikiranya ada setan. Ternyata memang ada sensor canggih, dasar wong ndeso. Jadwal kerja yang padat membuat kami lupa untuk bersenang-senang dihotel, malam baru bisa masuk kekamar. Seperti kamar-kamar hotel dibali, nuansa temaram menyinari selasar kamar. Dan sekali lagi, saudara bilang, banyak banget sikh disini. Aduh males deh…..OMG dia lihat mahluk halus lagi. Tapi tenang kamar yang kami tiduri aman kata saudara saya, tapi diluar banyak banget penunggunya. Kalau mau uji nyali keluar kamar aja. Males banget deh.

Tiga hari dua malam dihotel X yang mewah dan konon bintang enam tersebut berjalan dengan lancar tanpa gangguan sedikit pun. Selesai acara kami pindah hotel, OMG kembali kehotel yang menyeramkan itu dikawasan kuta.

Kali ini kami mendapatkan kamar lama dengan tipe yang berbeda dan lebih spooky. Malam itu kami ambil 3 kamar untuk dua malam, baru buka kamar saja saudara saya bilang,”jangan main-main kebalkon ya”. Mau tau siapa penghuni balkon, ya seperti gambar dibawah ini.

rangda

Aduh saya dan rekan kerja – Dhani ketakutan. Dhani nggak mau tidur sendirian dikamarnya, rekan kerja saya yang lain si Rio ada dilantai dua. Sementara kami bertiga dilantai tiga dengan dua kamar. Karena saking ketakutan karena kamarnya yang spooky habis, terpaksa pilih tidur bertiga disatu kamar. Kamar yang lain dikosongkan untuk naro tas.

Berhimpitan-himpitan lah kami bertiga demi menghilangkan rasa takut. Besoknya kami memutuskan pindah kehotel lain, ya udah gpp hangus yang satu malam dibanding kami ketakutan setengah mati. Huftt nggak mau lagi tinggal dihotel itu, cukup sudah peristiwa yang menyeramkan….

Rep-Rep An dihotel Kawasan Seminyak

Baru kali ini saya mengalami rep-repan, yaitu kejadian ketika kita sedang tertidur badan kita seperti tertindih oleh sesuatu yang tidak kasat mata sehingga susah untuk bernafas dan bahkan untuk membuka mata. Peristiwa ini terjadi sekitar 5 tahun lalu ketika saya ada training disebuah hotel tua dan terluas dikawasan seminyak, Bali. Hotel bintang lima tersebut memang sudah lama berdiri dengan taman-tamannya yang luas, indah dan terpelihara disiang hari. Ketika malam hari tiba perjalanan dari lobby hotel kekamar harus melalui taman-taman dengan lampu temaram dan bahkan beberapa tempat cukup gelap.

view

Untuk orang bule atau wisatawan asing sangat suka suasana seperti ini, tapi tidak seperti saya. Malam itu adalah malam pertama dan saya mendapatkan kamar junior suite dilantai satu dengan balkon yang langsung menuju ketaman yang cukup luas. Terlalu besar untuk saya yang tidur sendirian, ya sudah mau diapakan lagi. Nggak ada pilihan lain untuk pindah kamar. Malam pertama menginap, tiba-tiba tubuh saya seperti tertindih mahluk besar sehingga membuat saya susah bernafas, tapi entah kenapa cukup sulit untuk membuka mata serta menggerakkan badan.

Saya segera membaca surat Ayat Kursi, tidak lama kemudian saya bisa bangun dan bernafas lega. Saya langsung menyalakan semua lampu yang ada dikamar. Mungkin saya lupa berdoa sebelum tidur sehingga mengalami kejadian mistis dihari pertama. Ya sudah saya terpaksa memberanikan diri sampe pagi menjelang.

Hari kedua saya segera menelpon teman-teman lama yang ada di Bali dan mengundang mereka untuk nginep dikamar beramai-ramai. Sebenarnya sikh saya ketakutan karena kamar yg gede dan seram dan alhamdullilah semua berjalan normal kembali.

to be continued

One thought on “My Travel Horror Story Part One

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s