Mae Sai, Golden Triangle dan Suku Karen di Chiang Rai, Thailand

Perjalanan ini sudah kami tunggu, mungkin sekitar 6 bulan. Kami terbang dengan tigerairways menuju ke bandara Svarnabhumi yang megah, ratusan turis asing mengantri panjang dipintu masuk imigrasi bandara. Setelah menginap satu malam di Bangkok, kami melanjutkan perjalanan ke Chiangmai dengan pesawat Airasia yang terbang dari bandara lama di Don Muang. Taxi adalah pilihan terbaik menuju kebandara lama yg sekilas mirip halim perdanakusuma tetapi lebih luas. supir taksi yang membawa kami melaju dengan kecepatan tinggi melalui jalan raya yang lebar, sekitar 40 menit perjalanan dari hotel kebandara. Dan apabila hari kerja bisa ditempuh selama 1 jam lebih karena jalanan dikota Bangkok terkenal macet sama seperti di Jakarta.

Pukul 07.30 pagi kami terbang menuju ke Chiangrai dan setibanya dibandara tersebut, kami memilih menyewa mobil selama 24 jam. ada beberapa penyewaan mobil dibandara dan tarifnya bervariasi tergantung dari jenis mobil yang kami pilih. Karena kami berenam, maka pilihan terbaik yaitu mobil SUV terbaru dari Honda CRV. Harga sewa mobil tersebut sekitar Baht 2.500/24 jam sudah termasuk asuransi dan biaya antar jemput mobil dihotel. Plus dengan biaya deposit Baht 30.000 yang cukup gesek kartu kredit saja tanpa verifikasi.

Thailand terkenal sebagai produsen mobil Jepang di asia tenggara sehingga tidak aneh harga mobil disini cukup murah dan bagus-bagus. Bensin diisi full tank tetapi ketika akan dikembalikan harus diisi penuh kembali oleh penyewa. Chiangrai kota kecil tetapi memiliki tempat wisata yang cukup jauh jaraknya, sehingga menyewa mobil adalah pilihan terbaik.

Dari bandara kami menuju ke hotel Baan Mai yang sudah kami booked sebelumnya, jarak dari bandara ke hotel sekitar 30 menit. Kota chiangrai memiliki jalan yg cukup lebar dan aspal yg bagus, hampir jarang jalanan berlobang, salut untuk pemerintah Thailand yg memberikan fasilitas jalan raya yg baik.

Hotel Baan Mai terletak tidak jauh dari stasiun bus kota lama yg terletak ditengah kota, hawa sejuk kota ini mengingatkan saya seperti diBandung. Chiangrai memang dikelilingi bukit yang masih perawan. Menurut sejarah kota ini dibangun oleh Raja Mengrai ditahun 1262. Ditengah kota ada sebuah patung Raja Mengrai yang megah dan setiap hari banyak penduduk Thailand yang memberikan bunga dan melakukan ritual Budhis.

Setibanya di hotel Baan Baan Mai Guest HouseMaai, kami segera check in. Hotel kecil ini sangat direkomendasikan oleh para backpackers dunia. Keramahan pemilik rumah serta kebersihan kamar menjadi jaminan tersendiri dan yang terpenting harganya cukup terjangkau. Kami mendapatkan kamar dilantai 3 dan kamarnya bersih dengan balkon yang menghadap perkampungan sekitarnya.

Selesai rehat sejenak kami langsung menuju keperbatasan antara Burma (Myanmar), Laos dan Thailand. Perjalanan menuju keperbatasan ditempuh selama 1 jam dengan mobil CRV kami terbaru. Jalanan yang lebar dan lancar serta pemandangan pegunungan yg menawan semakin menyenangkan. Ketika hampir memasuki perbatasan Thailand, kami harus melambatkan laju kendaraan karena ada pos penjagaan polisi. Polisi Thailand wajib memberhentikan mobil yg menuju ke border, karena disinyalir takut ada penyelundupan barang. Saya pun segera menghentikan mobil dan mengatakan bahwa kami adalah wisawatan dari Indonesia, selanjutnya kami segera bergegas.

Mae Sai adalah kota perbatasan di Thailand utara. Ratusan orang melewati perbatasan ini setiap hari. Dan kita bisa menyaksikan pemandangan warga Myanmar yg lalu lalang dengan kain batiknya. Yang sangat membanggakan kain batik yg mereka gunakan, diimpor dari Pekalongan – Indonesia. Dikota ini banyak dijajakan kain batik pesisir khas pekalongan yg disukai oleh warga Thailand atau Myanmar. Ada beberapa warga asli Thai yang memakai baju batik.

DSCN0477Ketika kami hendak menyebrang ke Myanmar, dikenakan biaya Baht 500/orang atau sekitar Rp 150.000. Akhirnya kami putuskan untuk tidak menyebrang karena biaya yg cukup mahal untuk sebuah stempel paspor Myanmar. Tampak beberapa warga muslim Myanmar yang melarikan diri ke Thailand karena kerusuhan dan pembantaian etnis lalu lalang dikota ini. Hari sudah terik dan kami memutuskan untuk mencari makanan halal. Tidak jauh dari tempat kami berdiri, terdapat sebuah restauran makanan halal. Kami pun segera menyusuri jalan tersebut. Restauran halal tersebut dikelola oleh seorang wanita asal Malaysia yg bersuamikan warga Thai. Ia bisa berbahasa melayu ketika kami bertanya kepadanya.

Nasi goreng, mie goreng dan makanan kari merupakan menu yg tersedia. Makanannya enak dan harganya sangat murah sekali. Kami terperanjat ketika mendapatkan bill senilai Baht 350 untuk 5 orang, masing-masing seharga Rp 25.000 sudah termasuk makan dan minum. Setelah selesai membayar tagihan, kami kembali membeli oleh-oleh khas Mae Sai yaitu batu giok, batu cat eye, dll. Myanmar terkenal akan batu permatanya, harga batu giok dikota ini sangat murah dibanding dikota Bangkok. Ketika dibali saya membeli sebuah gekang cat eye dikota Ubud, Bali seharga Rp 300.000/gelang dan dikota ini hanya seharga Rp 90.000/gelang. Sangat murah sekali dan cocok untuk dijadikan oleh-oleh ke Jakarta.

DSCN0511 DSCN0516 ?????????? DSCN0533

 

 

 

 

 

Setelah selesai berbelanja, kami kembali menuju ke kawasan Golden Triangle yg terkenal. Golden Triangle merupakan sebuah kawasan ditepian sungai Mekong yg berada di tiga negara yaitu Myanmar, Laos dan Thailand. Pemerintah Thailand membangun kawasan ini sebagai tempat wisata, dulunya kawasan ini rawan sebagai tempat penyelundupan opium. Opium dihasilkan diperbatasan negara ini dan terkenal diekspor seluruh dunia dan kini ilegal. Diseberang sungai mekong, kita bisa menyaksikan beberapa bangunan kasino di Myanmar dan konon banyak warga Thai yg berjudi dinegara burma.

DSCN0539 DSCN0543  DSCN0530 DSCN0545

 

 

 

 

Ditepian sungai mekong, ada sebuah patung Budha raksana berwarna keemasan yang mendominasi kawasan Golden Triangle tersebut. Ditempat tersebut kita bisa menyaksikan peta kawasan segitiga emas dan kesempatan berfoto merupakan pengalaman tersendiri. Tidak jauh dari patung Budha emas terdapat museum opium yang menceritakan sejarah opium diThailand. Tetapi sayang museum tutup pukul 15.00 dan kami tidak bisa masuk.

?????????? ?????????? ?????????? DSCN0574Jadwal selanjutnya kami menuju ke Suku Karen – sekumpulan suku gunung diutara Thailand yang terkenal para wanitanya menggunakan kalung tembaga dilehernya. Dari Mae Sai menuju keperbukitan dan tidak ada petunjuk yang pasti menuju kelokasi ini.Saya harus beberapa kali bertanya dan bahkan harus berhenti dikantor kepolisian setempat. Sayangnya para polisi tidak bisa berbahasa Inggris, terpaksa harus menggunakan bahasa tarzan berbekal peta. Akhirnya diberi petunjuk dengan memberikan arah.

Perjalanan dari kota Mae Sai ke perbukitan suku karen ditempuh selama 1,5 jam. Jalanan berliku dan mendaki harus kami tempuh, dengan mobil SUV terbaru bukan menjadi halangan bagi kami. Akhirnya pukul 17.45 kami tiba dilokasi suku karen yang sangat terpencil, diujung gunung yang jauh dari kehidupan. Setelah parkir mobil, kami segera menuruni jalan setapak yang sudah diplester dengan semen.

Dipintu gerbang tertulis bahwa wisatawan asing harus membawar Baht 100/orang atau sekitar Rp 36.000. Ya sudahlah, kami membayar uang masuk kelokasi suku karen. Jalanan tanah yg sempit sehabis hujan mengguyur disore hari dan pepohonan bambu yg rapat jadi ingat jalanan dikampung. Ada beberapa area yg rawan longsor dilokasi jalanan tersebut, jadi harus extra hati-hati terlebih dimusim hujan.

DSCN0563 DSCN0567Sekitar 10 menit kemudian kami tiba disebuah jalan sempit dengan warung-warung kecil dari bambu yg sepi. Tidak lama kemudian kami menjumpai gadis cantik suku karen yang sedang menenun dan hasil kain tenunan mereka dijual kepada turis asing. Saya berjanji akan membelinya pada saat pulang. Kami melanjutkan perjalanan dan tidak lama kemudian kami menemukan perkampungan mereka yang kecil dengan para wanita berleher panjang dan dikalungi ring dari tembaga. Leher mereka sangat panjang dan bahkan kakinya juga diberi ring, konon tradisi ini akan memberikan kecantikan tersendiri bagi para wanita suku Karen.

Apabila berniat foto, diwajibkan membeli kain tenunan mereka. Harga kain tenunannya sangat murah dengan harga Baht 100 – 350/item tergantung dari lebar kainnya. Tenunan asli suku karen seperti kain syal dengan benang-benang agak renggang. Sementara kain tenunan yg lebar biasanya mereka beli dari suplier dan dijual lagi oleh mereka, sehingga harganya lebih mahal.

Masuk keperkampungan ini seperti melihat musium hidup, kasihan! Mereka sangat tergantung hidupnya dari kunjungan wisatawan dan penjualan kain tenunan. Setelah membeli 10 helai kain tenun seharga Baht 200, saya bebas berfoto bersama mereka. Salahsatunya bernama Mata, usianya sekitar 50 tahun dan ia sangat ramah sekali dan bisa berbahasa inggris sedikit. Anaknya juga menenun, menurutnya dari umur 7 tahun sudah dipasangi ring dan setiap tahun ditambah 1 ring. Bayangkan semakin tua berarti semakin banyak ringnya. Ketika tidur ring tersebut tidak dilepas dan terus dipakai untuk beraktifitas sehari-sehari. Wow!

Matahari hampir terbenam dan takut jalanan semakin gelap, akhirnya kami bergegas pulang dan menyempatkan diri berbelanja kain lagi dianak gadis suku karen dipintu masuk kedua. Tipsnya apabila bepergian rombongan, sebarlah belanja dibeberapa orang suku Karen. Karena dengan begitu mereka mendapatkan penghasilan secara merata. Berbelanja sambil beramal.

Hujan deras mengguyur ketika kami turun gunung dan menuju kepusat kota Chiang Rai. Dikota ini ada beberapa sumber air panas dan banyak ditemukan gua karst. Apabila ada waktu bisa mampir disumber mata air panas tersebut. Setibanya dihotel, kami segera mencari makan malam.

DSCN0580 DSCN0581 ?????????? ?????????? DSCN0592

 

 

 

 

Disalahsatu alun-alun yg terletak dibelakang stasiun bus lama, terdapat sebuah Night Bazaar. Lokasi night bazaar ini menjadi hiburan tersendiri bagi turis asing dan warga Chiang Rai. Lapangan ini dikelilingi berbagai macam penjaja makanan mulai dari non halal, seafood dan beragam penganan lain. Bahkan ada semacam panggung hiburan yg lengkap dengan band, penyanyi lokal serta penari. Yang unik para penari ini bernari mengelilingi tempat dansa, para pengunjung bisa bernari bersama sambil memberikan tips.

Makanan halal, tidak usah pusing. Di sisi utara night bazaar ini ada sebuah restauran muslim dan saya segera memesan semangkuk tom yam dengan nasi hangat plus kelapa muda khas Thai seharga Baht 200. Cukup mahal sikh, cuma tidak ada pilihan lain karena banyak yg non halal disini dan bahkan dijual makanan aneh seperti belalang goreng, ulat goreng, dll.

Selesai makan, kami keliling sekitarnya untuk membeli oleh-oleh. Ada beragam penjual kaos, dll dinight bazaar ini. Berbelanja disini seru, karena kami harus tawar menawar. Kalkulator adalah senjata ampuh yg kami bawa dari Indonesia, tawaran awal 50% dari harga tertera adalah sebuah keharusan. Kaos dan pernak-pernik khas suku gunung menjadi oleh-oleh yang patut dibeli. Belanjaan kami tambah banyak.

?????????? ??????????Dari night bazaar kami lanjut melihat Clock Tower sebagai penanda pusat kota, kalau di Yogya seperti Tugu Yogya. Cuma bedanya menara jam ini dihiasi lampu cantik dan ornamen khas thailand yg terdiri dari kaca potong sehingga ketika terkena bias lampu memberikan nuansa indah dimalam hari. Setiap jam, menara jam ini bisa mengeluarkan musik khas Thailand dan permainan lampu hias yang otomatis akan nyala sendiri. It’s a must to be here.

Jam 24.00 kami tiba dihotel dan segera beristirahat. Night Chiang Rai!

10 thoughts on “Mae Sai, Golden Triangle dan Suku Karen di Chiang Rai, Thailand

      1. Ok,thanks ya buat infonya..di bandara chiang mai,byk sewa mobil ya?soalnya baru pertama ke sana..bingung..krn hrsnya prg ber5 (4adults n 1baby),skrg mlh cm 2adulrs n 1baby..

        Like

  1. iya pas dibandara saja sewa mobilnya…paling aman bayar pakai kartu kredit saja.
    pakai AVRIST rent a car, trus biasanya ada deposi refundable…Baht 3000 pakai kartu kredit
    nah sewa mobilnya bayar pakai tunai saja, mobil disana bagus2 semuanya, maklum thailand terkenal sebagai basis produsen mobil jepang di asia tenggara…

    Like

    1. nggak pakai sim international koq…malah sim A ku dah habis pas disana, pas waktu mau dekat perbatasan memang akan ada pemeriksaan, tetapi nggak sampai periksa surat2 segala koq. cukup bilang saja turis dari Indonesia, dan mereka langsung jalan. Kalau sepeda motor, saya kurang tahu…karena tidak semudah sewa motor dibangkok or ayutthaya…

      Like

  2. please help , saya mau ke chiang mai bln april , mau sewa mobil gimana cara nya ? ada driver yg bisa saya hubungi via bb atau email ?, atau bisa on the spot di bandara saja ?

    Like

    1. pagi…untuk lihat suku karen, tentu saja lebih dekat dari chiang rai. Tapi bisa ditempuh lewat perjalanan darat dari chiang mai.
      Tergantung tujuan awal kamu dimana. Dulu tripku sikh terbang dr bangkok ke chiang rai kemudian sewa mobil menuju kesuku karen diutara chiang rai. Nah dari chiang rai naik bus menuju ke chiang mai. Dr chiang mai kebangkok kamu bisa pilih pesawat atau kereta api.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s