Ogoh-Ogoh Festival in Bali

Sebelum Nyepi, setiap banjar atau desa di Bali diwajibkan untuk memperlihatkan kebolehannya dalam malam pengrupukan. Setiap muda – mudi di Bali diwajibkan untuk berpartisipasi. Setiap banjar membuat kaos sendiri yang rata-rata berwarna hitam dengan sablonan bertuliskan nama banjar (desa) mereka masing-masing. Ada rasa bangga diantara mereka, karena tentu saja mereka harus bersaing dengan banjar-banjar lain dan tentu saja memperebutkan hadiah yang akan dinikmati bersama. Kemenangan bagi setiap banjar adalah sebuah kebanggaan.

Ada 13 desa di Kuta, Denpasar dan pertunjukan dimulai pukul 20.00 lebih lambat 30 menit dari jadwal semula. Ratusan wisatawan asing dan domestik tampak sangat antusias menunggu pawai ogoh-ogoh.

Setiap banjar diwajibkan minimal mempertontonkan ogoh-ogoh yang sebelumnya dibuka dengan pawai muda-mudi yang membawa spanduk banjar dan sambil membawa obor. Kemudian penampilan kelompok gamelan berjalan, mereka memainkan beberapa musik tradisional gamelan Bali kontemporer.

Para pemain gamelan tidak hanya bisa memukul alat musik tetapi mereka harus bisa menari dan mempertontonkan hiburan ringan kepada para penonton dan juri.

Penutup yaitu ogoh-ogoh yang digotong minimal sekitar 20 orang dan bahkan ada wisatawan asing yang turut serta. Ada juga banjar yang memamerkan mini ogoh-ogoh dan biasanya dibawa oleh sekitar 10 – 20 anak kecil, tingkah mereka sangat lucu dan bahkan ada yang terjatuh karena terseret ogoh-ogoh. Konon beberapa ogoh-ogoh bisa sangat berat sekali karena dimasuki mahluk gaib.

Di akhir acara, setiap ogoh-ogoh dibawa ke setra atau pemakaman umum dan dibakar sebagai simbolisasi pemusnahan iblis dibumi serta penghancuran angkara murka. Tetapi ada juga ogoh-ogoh yang dipajang di banjar sebagai simbol kebanggaan atas hasil kriya mereja yang bisa menghabiskan puluhan juta.

Akhirnya pukul 23.30 acara malam pengrupukan berakhir. Karena pada pagi hari pukul 06.00 WITA segala sesuatu akan dimulai dengan intropeksi diri (Catur Brata) selama 24 jam bagi seluruh umat Hindu Bali untuk melaksanakan amati geni (tdk menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tdk bepergian) dan amati lelanguan (tdk bersenang-senang).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s