Siapa Salim

Sudah sekian lama saya tidak mencerahkan otak saya untuk menikmati salahsatu anugrah Tuhan yang diberikan kepada seorang manusia yang berbakat dalam bentuk seni lukis. Salahsatu hobi saya adalah menikmati seni lukis, dalam ingatan saya mengunjungi sebuah pameran lukisan sekitar bulan Februari 2008. Waktu itu saya harus mengunjungi sebuah balai lelang yang mengadakan pameran lukisan disebuah hotel berbintang di pusat kota Jakarta. Lukisan yang ditampilkan cukup beragam dari mulai ekspresionis hingga post modern yang kini sedang digandrungi oleh para kolektor seni di Indonesia maupun di dunia. Untuk sebuah single exhibition, baru kali ini saya memulai perjalanan menikmati goresan-goresan seni sang maestro yang bersembunyi di kota Paris, Perancis selama bertahun-tahun.

Beliau adalah Salim, seorang pelukis Indonesia yang hampir selama hidupnya menghabiskan waktunya di Perancis untuk menikmati alam kebebasan berekpresi di sebuah kota yang konon arah kiblat seni lukis dunia. Menurut katalog yang dikeluarkan oleh Galeri Cemara 6 yang menjadi salahsatu sponsor pameran tunggal sang maestro ini, Salim dilahirkan di dekat Medan pada tahun 1908. Dan beliau pada umur 12 tahun (1920) bertolak ke Eropa dan menetap disana hingga tahun 1931. Kemudian Salim kembali ke tanah air dan bergabung dengan Partai Nasional Indonesia bersama Bung Hatta hingga tahun 1934. Karena situasi yang tidak menentu ditanah air akibat rasa nasionalismenya yang besar serta tekanan dari pemerintah Hindia Belanda, beliau melarikan diri ke  Perancis.

Untuk sementara, Salim tinggal di kota Marseille sebuah kota pelabuhan terkenal di Perancis dan kemudian pindah ke kota Paris hingga beliau memutuskan untuk menetap di sebuah kota kecil di selatan Perancis, kota S’ete. Pada masa perang dunia ke 2, beliau juga membantu para pengungsi Yahudi Perancis yang hendak bersembunyi dari kepungan tentara Nazi Jerma pada tahun 1942 – 1945. Sesudah perand dunia II berakhir, kreatifitas Salim semakin berkembang dan beliau memulai pameran tunggal perdanannya pada tahun 1950 di kota Paris.

Menyimak karya lukisnya yang kali ini diadakan untuk menyambut hari ulangtahunnya yang ke 100 di bulan September 2008 ini, saya cukup terkesima. Pameran yang bertajuk SALIM / SIAPA SALIM ini dibuat agar masyarakat awam di Indonesia seperti saya tahu serta mengenal sosok dan hasil karya sang maestro ini. Sayang karena kondisi fisiknya yang sudah sangat tua (umur beliau saat ini 100 tahun), Salim tidak bisa menghadiri pameran tunggalnya di Indonesia. Padahal beliau sudah sekitar 5 kali berpameran di Indonesia yaitu tahun 1954, 1956, 1971, 1974 dan 1990.

Pameran kali ini diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia dari tanggal 2 – 14 September 2008, hasil kerjasama dengan CCF (centre cultural francais) Jakarta, Galeri Cemara 6, Galeri Nasional Indonesia dan Biro Oktroi Roseno. Pada saat memasuki lokasi pameran seni, pengunjung diajak untuk menikmati hasil lukisan beliau yang dibagi dalam beberapa segmen yaitu Flower, Architecture, Landscape dan Figurative. Selain itu pengunjung juga diajak untuk menikmati karya seni pelukis muda berbakat di Indonesia yang menampilkan sosok Salim menurut pemikiran mereka dalam goretan-goretan diatas kanvas.

Lukisan Salim menurut saya sangat menarik terutama hasil karyanya dalam bentuk kubisme. Lukisan seperti ini jarang dibuat oleh para pelukis masa kini, gaya melukis beliau banyak dipengaruhi oleh gaya lukisan Braque, Derain, Picasso dan Matisse. Sosok pelukis yang beliau kagumi tanpa meninggalkan gaya lukis timur. Salahsatu lukisan beliau yang saya kagumi adalah lukisan tentang kota pelabuhan S’ete. Dari dekat, lukisan tersebut seperti tanpa arti, perlahan-lahan saya mundur ke belakang hingga mendapatkan jarak yang cukup pas untuk menikmati lukisan tersebut. Got it!! Otak saya langsung merekam lukisan tersebut memang menggambarkan sebuah kehidupan di kota pelabuhan S’ete. Tampak bangunan khas mediteranian yang saling berjejer ditepi laut dengan beberapa perahu yang sedang bersandar. Padahal awalnya saya masih belum mendapatkan feel dari lukisan tersebut.

Dalam lukisan bunga, Salim tidak menggambar sosok bunga dalam sebuah lukisan ekpresionis atau impresionis lainnya. Keindahan bunga yang beliau gambarkan ditampilkan dalam guratan yang berbeda. Sangat menarik sekali pameran kali ini.

Sebuah layar TV LCD menayangkan sebuah film dokumenter tentang sosok Salim dan testimonial beberapa teman dekatnya. Dari film tersebut, akhirnya saya bisa mengetahui bahwa sosok sang maestro ini memang Indonesianis. Walau sudah menetap puluhan tahun di Perancis dan beristrikan seorang wanita Belanda, Salim tidak pernah mengganti kewarganegaraannya. Salim masih tetap warga negara RI dengan  paspor hijau bergambar burung garuda. Sayang film dokumenter tersebut tidak dijual dipameran tersebut. Dari penuturan pihak panitia, sudah banyak yang ingin membeli VCD film dokumenter tersebut.

Pada bagian lain ditampilkan beberapa hasil karya seni para pelukis muda berbakat. Pada saat saya bekerja di wealth management, saya belajar bahwa sebuah lukisan bisa dijadikan salahsatu perangkat investasi. Tahun 1990an, saya sangat menyukai karya Dede Eri Supriya pada saat ia pameran tunggal di galeri nasional waktu itu dan belum terkenal seperti saat ini. Begitu melihat hasil karyanya yang menakjubkan, saya langsung ngeh bahwa ia akan terkenal karena hasil karyanya. Kali ini saya mencoba melihat hasil karya pelukis lainnya yang juga dipamerkan kali ini.

Lukisan “Self Potrait” karya Dandi Ahmad memikat hati saya. Permainan warna dan goresannya yang kuat, sepertinya hasil karyanya akan banyak diburu oleh para kolektor lokal. Karya Yogie Achmad Ginanjar “Salim-Philospher’s Stone with Muse in Paris” juga memikat dan akan diburu kolektor. Lukisan hitam putih berjudul “Salim and Pauhrizi” karya Erik Pauhrizi, rasanya ingin saya beli (Insya Allah kalau ada rejeki) dan ingin saya pajang dirumah. Lukisan hitam putih tersebut tampil beda dan seperti saya melihat sebuah hasil karya foto black and white.

Lain lagi dengan karya Tommy Aditama Putra berjudul “Salim the Who I” yang dilukis dengan warna soft pastel dan agak muram, juga pantas untuk dikoleksi walau lukisannya mengingatkan saya akan hasil karya pelukis tersohor lainnya yang saya lupa namanya.

Pameran lukis seperti ini sepi pengunjung, hanya ada saya, seorang pria berumur 40tahun yang sedang menikmati lukisan, sepasang pengunjung yang sudah berumur dan supirnya yang sedang asyik mengamati lukisan yang dipajang. Total hanya ada 5 pengunjung waktu itu, padahal ini adalah sebuah pameran besar.  Pameran seorang maestro lukis Indonesia yang disejajarkan dengan Raden Saleh, Affandi, Basuki Abdullah dan pelukis besar lainnya. Sangat sayang dilewatkan karena belum tentu beliau akan berpameran lagi di Indonesia mengingat usianya yang mencapai 100 tahun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s