Secangkir Kopi Hangat

Sepertinya masih kurang afdol buat saya apabila pagi hari tidak dibuka dengan secangkir kopi hangat……entah kenapa aroma kopi di pagi hari dan rasanya yang khas menimbulkan efek yang berbeda buat saya….cairan kopi yang masuk kedalam tubuh saya membuat saya tambah bertenaga dan otak saya jadi cerah….membuat saya lebih bisa berkonsentrasi. Sudah beberapa bulan ini saya sengaja mengurangi asupan gula di racikan kopi yang saya buat. I dont like sweet coffee…..

Indonesia terkenal sebagai salahsatu negri penghasil kopi terbaik…..Bapak saya adalah pecinta kopi…..mama saya dengan setia selalu membuatkan kopi tubruk setiap pagi hari….mungkin dari situlah sejarahnya mengapa saya menyukai kopi. Aroma kopi tubruk yang wangi di pagi hari bagaikan aroma parfum yang menyegarkan. Budaya minum kopi bisa kita temui hampir di seluruh pedesaan di negri ini. Mostly…kaum pria lah yang paling dominan untuk menenggak kopi baik di pagi hari, siang ataupun malam. Tapi kini banyak kaum hawa juga yang menyukai kopi….salahsatu teman wanita saya di perusahaan yang lama tergila-gila dengan kopi. Ia bisa menghabiskan 5 cangkir kopi sehari dan bahkan bisa lebih ….apalagi kalau ia sedang dikejar-kejar deadline…..

Cup of Java…..sebuah ucapan yang sangat terkenal di dunia barat…kopi identik dengan pulau Jawa. dan bahkan salahsatu perusahaan software terkenal membuat brand softwarenya dengan nama “JAVA”…..terinspirasi dari kopi yang selalu ia minum. Bahkan di Seattle, USA ada sebuah kedai kopi dengan nama Java Head.

Biji Kopi pada awalnya dibawa dari negri Ceylon (Sri Lanka) yang dibawa oleh penjajah Belanda. Kopi jenis Arabika yang pertama kali dikembangkan di Indonesia yang rata-rata hidup di kawasan pegunungan. Batavia (Jakarta), Sukabumi dan Bogor adalah area perkebunan kopi pertama yang ditanam oleh Belanda. Dari sini perkebunan mulai diperluas ke wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra dan Sulawesi.

Wilayah Flores dan Timor pun mulai ditanami oleh kopi dari jenis Arabika. Tidak heran hingga kini wilayah tersebut menjadi sentra kopi dan terkenal hingga kemanca negara.

Suatu saat saya berkunjung ke pegunungan Ijen di Probolinggo untuk menikmati sunrise dari balik pegunungan tersebut. Ternyata kawasan Ijen merupakan perkebunan kopi Arabika untuk kualitas ekspor…tidak sembarang orang diperbolehkan keluar masuk area perkebunan, setiap mobil yang masuk harus dicek dulu oleh petugas perkebunan. Begitu saya memasuki area perkebunan dan perkampungan pabrik kopi……….aroma kopi yang disangrai oleh para penduduk lokal pun tercium…….saya masih bisa membayangkan betapa harumnya aroma kopi tersebut. Mendekati puncak gunung Ijen, saya disediakan kopi arabika khas Ijen oleh panitia lokal setempat…………mak pyar……….rasanya sungguh nikmat. Udara dingin pagi hari sedikit terkikis oleh kopi hangat arabika yang fresh from the plantation. Rasanya agak sedikit pahit…beberapa butiran kopi masih bisa dirasakan….tapi begitu tetesan kopi hangat masuk kedalam mulut dan tubuh saya. Wuih….segar rasanya….kantuk saya jadi hilang…padahal saya tadi pagi bangun pukul 03.30 hanya untuk menikmati sunrise dari balik punggung gunung Ijen.

Di kampung saya Tulungagung, Jawa Timur lebih aneh lagi………banyak sekali kedai kopi yang menyediakan ampas kopi tubruk. Masyarakat Tulungagung dan sekitarnya suka sekali mengoleskan ampas kopi ke rokok kretek mereka, agar ada aroma kopi dari rokok kretek yang mereka hisap.

Nyethe adalah sebuah kegiatan menggambar atau melukis di atas rokok dengan  menggunakan media endapan kopi (dalam bahasa jawa: cethe). Berdasar cerita dari mulut ke mulut, kebiasaan nyethe dimulai oleh petani yang kehabisan wedang kopi. Istri biasanya mengirim makan dan wedang kopi ke sawah. Jika kemudian kopi habis padahal masih belum puas ngopi, petani mengoles-oleskan cethe ke rokok.

Awalnya,nyethe dikenal hanya di daerah Tulungagung, Jawa Timur. Kemudian, kebiasaan ini ternyata merambat ke daerah lain semisal Malang, Kediri, Surabaya dan kota-kota lain.

Pada perkembangannya, nyethe tidak hanya dilakukan ketika kopi sudah habis dan di gelas hanya tersisa cethe. Secangkir wedang kopi panas dituang ke lepek. Beberapa menit kemudian, air di pengalas gelas itu dikembalikan ke cangkir. Dapatlah cethe, untuk kemudian nyethe.

Saat ini sudah dikenal luas warung nyethe, warung yang menyediakan diri khusus untuk keperluan ini. Pemilik warung menyediakan cethe dalam lepek-lepek. Pengunjung tingggal mengoles.Para penyethe pun mengoleskan cethe ke batang rokok laksana membatik, dengan aneka motif, mulai dari garis-garis hingga hitam kelam. Bubuk kopi yang digunakan harus lembut. Biasanya, pe-nyethe mencampurkan sesendok teh susu kental manis pada cethe-nya. Tujuannya, agar ampas cepat menempel ke batang rokok. Sedangkan alat lukisnya adalah batang korek api.

Hmmmmm tradisi yang aneh bukan??? Saya juga masih ingat bagaimana almarhum nenek saya dengan rajin menumbuk kopi sendiri yang kopinya terkadang beliau petik sendiri dari kebun di belakang rumah keluarga kami. Setelah dikupas dan dikeringkan serta disangrai, biji kopi ditumbuk dengan lumpang….hingga menjadi butiran halus. Kopi buatan almarhum nenek saya, menjadi salahsatu minuman yang nikmat dikeluarga kami pada saat libur panjang lebaran berlangsung. Bau aroma kopi yang disangrai dengan moda kayu bakar dan wajan dari tanah liat….menambah cita rasa kopi tersebut. Setiap seduhan kopi yang dihasilkan akan menghasilkan crema yang cantik…..mumbul dipermukaan gelas beling buatan jaman dulu….

Starbucks……mulai mengenalkan budaya baru minum kopi di Amerika dan diseluruh dunia …sebagai the new lifestyle….kayaknya nggak sreg kalau nggak ngupi di starbuck sambil see n wanna be seen. Di Indonesia…..sebenarnya sudah muncul pewaralaba kopi yang cukup sukses seperti….Execelso, Bakoel Coffee, Kedai kopi khas makassar “Phoenam” serta Coffee Bean and Tea Leaf….atau kedai kopi Gayo……bahkan saya sendiri paling suka ngupi di Gloria Jean’s Coffee.

Bukan itu saja….waralaba kopi dari Thailand pun juga sudah buka di Indonesia…Black Canyon Coffee…

Orang Jepang ternyata paling suka minum kopi dari desa Kalosi, Tana Toraja di sulawesi selatan. Dikalangan orang jepun…kopi dari desa Kalosi ini terkenal full bodied, karakter yang kaya dan kompleks serta tingkat keasaman yang tinggi. Hal ini yang menjadi penyebab perusahaan Jepun memborong ratusan hektar kebun kopi di Rantepao dan Toraja dengan standar mutu produksi yang tinggi dan tidak dijual di Indonesia..jadi kalau anda sedang minum kopi di gerai Key Coffee yang ada di Jepun….inilah kopi asli buatan Indonesia.

http://www.keycoffee.co.jp/e/index.html

Nah kalau kalian suka kopi robusta….Mandailing di Sumatra Utaralah lah juaranya…kalau kopi robusta terkenal akan keharumanya..maka kopi robusta hanya untuk mereka yang suka akan kopi sesungguhnya….tidak heran apabila kopi robusta agak lebih mahal dibanding arabika. Tapi sayang brand “Mandailing” kini sudah dipatenkan oleh Vietnam……..pemerintah kurang sigap untuk hal-hal yang sepele seperti ini. Jadi suatu saat jangan aneh…kalau orang di mancanegara hanya akan kenal Mandailing dari Vietnam bukan dari Indonesia…..

Mau kopi yang mahal…………..ada Kopi Luwak….refenrensi untuk buah kopi yang sudah masak dipohon, trus dimakan sama musang (luwak), biji kopi tersebut dikeluarkan dari dubur (maaf) musang……….dat’s what we call “the best coffee in the world”….yeikkkkk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s