Republik Tempe

Beberapa hari yang lalu, seperti biasa setiap pagi Mama sudah mempersiapkan makan pagi untuk saya diatas meja makan sebelum berangkat kerja. Menu makan pagi waktu itu adalah sayur nangka kesukaan saya dengan bumbu padang yang kental sehingga berwarna oranye, ayam goreng serta tempe dan tahu goreng. Pokoknya pagi itu membuat saya ingin segera mencicipi masakan mama yang buat saya pribadi terkenal akan kelezatannya. Beliau memang suka memasak dan rasanya tidak pernah terlupakan buat saya.

Tiba – tiba kenikmatan makan pagi saya agak terganggu pagi itu, karena tempe goreng yang saya rasakan pagi itu berbeda sekali dengan yang biasa saya makan. Akibatnya saya sempat mengeluh dengan Mama mengenai cita rasa tempe yang berbeda pagi itu. Padahal tempe adalah salahsatu makanan kesukaan saya dari dulu. Kemudian Mama segera mencicipi tempe hasil gorengannya, dan ternyata memang berbeda rasanya. Rasanya sangat tidak enak sekali, tidak fresh….seperti rasa tempe busuk. Padahal menurut Mama, tempe yang dibeli berasal dari penjual tempe keliling langganannya bukanlah tempe busuk. Umur tempe yang ia beli tidak lebih dari 24 jam dan sudah dimasukkan ke dalam lemari pendingin agar tetap terjaga rasanya.

Akhirnya, saya tidak mau makan tempe goreng tersebut dan saya melarang Mama untuk membeli tempe pada pedagang yang sama. Beberapa pekan terakhir ini sangat ramai diberitakan bahwa harga kedelai membumbung tinggi dan para produsen tempe dan tahu di Indonesia menjerit. Tempe adalah makanan murah dan menyehatkan, tempe konon adalah makanan asli bangsa Indonesia yang dibuat dari kacang kedelai dan mengalami proses fermentasi sehingga membentuk tempe.

Dulu kita mungkin tidak lupa akan makian “Otak Tempe, makanya melempem!”. Padahal menurut penelitian para ahli didalam maupun luar negeri, makanan yang murah dan meriah serta mengenyangkan (tentu kalau makan tempenya banyak) ini merupakan makanan yang sehat bagi tubuh. Tempe mengandung sejumlah zat yang berguna bagi tubuh, karena tempe sendiri dihasilkan dari kacang kedelai tanpa bantuan bahan kimia sedikitpun. Proses pembuatan tempe pun sangatlah mudah.

Pulau Jawa sendiri merupakan sentra industri pembuatan tempe terbesar di Indonesia dan bahkan di dunia. Masyarakat Jawa kemungkinan yang mempopulerkan makan tempe dalam pola makan sehari-hari bangsa Indonesia sebagai makanan yang murah dan mengenyangkan. Tempe memang terkenal lezat apabila dimakan pada saat hangat dan dibumbui sambal kecap…wuih pasti nikmat!

Tapi apa daya kini, tempe menjadi makanan yang mahal bukan makanan rakyat lagi seperti dulu. Pemerintah sendiri dulu sempat mengeluarkan program swasembada kedelai di Indonesia. Tapi apa lacur, program hanyalah program tanpa penanganan yang maksimal dan bersinambungan. Kedelai yang merupakan bahan pokok pembuatan sejumlah makanan seperti tempe serta tahu dan kecap, kini harganya mahal dan susah dijangkau oleh para produsen tempe yang notabene adalah produk rumahan.

Memang ada sejumlah perusahaan tempe tapi masih berskala menengah dan produk mereka dipasarkan kesejumlah pasar hypermarket. Kedelai sendiri masih harus dimpor dari luar negeri seperti Amerika Serikat, Cina dan sejumlah negara lain. Bagaimana bangsa ini mau maju, kalau makanan rakyat yang murah dan menyehatkan ini saja sudah susah untuk dibeli. Harga tempe sekarang juga sudah mahal dan kemungkinan ada produsen tempe yang nakal dengan mencampur bahan lain sehingga rasa asli tempenya sudah hilang. Tempe sudah tidak senikmat lagi seperti masa lalu.

Ada masa pada saat saya pulang kampung ke Tulungagung bersama keluarga, saya selalu minta digorengkan tempe buatan lokal yang rasanya sangat beda sekali. Tempe buatan kampung saya, dibungkus dengan daun pisang atau bahkan daun jati. Kacang kedelainya masih pakai kacang lokal yang terkadang terlihat gemuknya butiran kedelai. Waktu dimakanpun, rasa tempenya sangat empuk dan ada cita rasa yang berbeda dari tempe yang biasa dibeli Mama di Jakarta. Menurut mama saya pembuatan tempe dikampung saya masih sangat sederhana, karena kebetulan sentra industri rumahan tempe berada 3 km diatas kampung saya. Sentra industri tempe memang berlokasi di kaki gunung wilis dan pada saat mereka membersihkan butiran kedelai menggunakan air sungai yang jernih, dingin dan mengalir dengan deras dari sungai kecil yang berasal dari gunung Wilis, gunung berapi yang masih tertidur dengan pulas di kawasan Jawa Timur.

Dan cara mereka memproses kacang kedelai juga mempengaruhi cita rasa tempe yang dihasilkan termasuk juga dengan faktor cuaca udara pegunungan yang sejuk. Entah kini, mereka pasti menjerit karena produksi mereka berkurang akibat harga kedelai yang melonjak tajam dan bahkan tidak terbeli oleh mereka. Margin keuntungan yang mereka buat sangat minim sekali, tapi jasa mereka membuat makanan rakyat yang murah dan sehat patut dihargai oleh pemerintah. Mungkin dengan memberi insentif berupa pinjaman modal, pemenuhan stok kedelai ditingkat nasional dan daerah, serta mencari oknum pelaku pembuat naiknya harga kedelai di pasaran. Seperti harga minyak sekarang yang mencapai 100USD/barrel, para pelakunya sama  dari dulu – para pemain internasional yang mempunyai kepentingan pribadi, membuat mereka semakin tambah kaya.

Pemerintah saat ini sedang sibuk tidak jelas, hanya sibuk memberikan  keterangan pers tentang keadaan mantan presiden Soeharto (yang notabene dulu jaman beliau berkuasa harga tempe masih sangat murah sekali) dan sibuk mempertahankan image agar tetap melaju di putaran pemilu 2009 nanti. Sementara  saat ini, ratusan ribu rakyatnya kelaparan akibat bencana alam yang baru terjadi dan ibu – ibu rumah tangga beteriak karena lonjakan harga sembako yang gila – gilaan. Termasuk mama saya yang mengeluh karena minyak goreng harganya naik. Belum lagi minyak tanah yang sulit dicari bagai mencari jarum ditumpukan jerami.

Pengalihan minyak tanah ke gas adalah salah kaprah. Kasihan para pedagang karena mereka tidak bisa jualan lagi. Minyak tanah semakin sulit dicari dan kalau ada mahal, bisa mencapai Rp 5,000 – 7,000/liter. Bagaimana mereka mau dagang kalau bahan bakar untuk membuat makanan saja sudah mahal, seperti yang dituturkan oleh seorang nenek tua penjual makanan keliling di dekat perumahan saya. Mama saya sempat bertanya kenapa beliau tidak jualan kue keliling lagi dan jawaban diatas adalah keluhannya.

Ada ratusan ribu penjual gorengan, penjual nasi goreng keliling, penjual makanan keliling dan lain sebagainya yang masih menggunakan bahan bakar minyak tanah untuk mengolah makanan. Pasti akan banyak pengangguran apabila mereka tidak bisa berdagang akibat tidak bisa membeli bahan bakar gas atau minyak tanah….

Negeri ini sebenarnya bisa menjadi bangsa yang besar dan rakyatnya hidup makmur apabila pemimpinnya tidak sibuk hanya mempertahankan image belaka serta hitungan – hitungan ekonomi makro serta mikro tanpa hasil yang sepadan. Semoga Tempe tetap menjadi makanan andalan dirumah keluarga – keluarga di Indonesia, sehingga membuat untung para produsen rumahan tempe dan juga para penikmat tempe seperti saya dan keluarga. Hidup Tempe!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s