My High School Diary – Part Two

Sekolah saya amat ketat sekali masalah seragam, rok untuk anak perempuan tidak boleh mini harus dibawah lutut walau tidak sepanjang sekolah Al Azhar. And this was about fashion at that time….masih ingat khan tentang fashion generasi 90-an? Masih ingat tali sepatu warna – warni yang dikaitkan pada sepatu kets. Disekolah saya diharamkan, tapi saya dan beberapa teman  masih membandel. Sehabis istirahat kedua, ternyata suster kepala sekolah sudah berdiri didepan tangga mengawasi anak – anaknya yang bandel tentang fashion kala itu. Dia memperhatikan tali sepatu anak – anak termasuk saya, padahal saya sudah dilindungi oleh geng saya sewaktu melewati si suster killer tersebut.

Sesampainya dalam kelas, suster masuk dan minta agar mereka yang memakai tali sepatu warna – warni diminta ke ruangannya. Duh…..ketahuan dekh!! Saya dan beberapa orang teman segera berdiri dan mengikutinya menuju ruang kepala sekolah. Ia hanya memberikan gunting dan meminta kami untuk melepas tali sepatu warna – warni tersebut dan mengguntingnya hingga kecil. Setelah digunting hingga kecil, kami semua disuruh kembali ke kelas masing – masing. She’s weird!!

Dan waktu itu sedang musim celana panjang bagian bawahnya agak lebar seperti celana cutbrai (bener nggak tulisannya?) dan diberi sobekan sedikit sepanjang 5 cm. Dan kali ini teman saya ketiban sial, ia ketahuan oleh si suster menggunakan celana model tersebut. Dia dipanggil kekantor kepala sekolah dan celana panjangnya disobek hingga sebatas lutut, teman saya kemudian disuruh pulang hari itu. Yang wanita ketahuan pakai rok mini, juga dipanggil. Ia disuruh pulang dalam keadaan malu hingga menangis dan diminta agar jangan memakai rok mini lagi. Karena terdengar suara pengumuman dari suster, keluar dari corong pengeras suara yang terpasang disetiap kelas. Huh….!!

Memasuki kelas 3 SMA adalah masa – masa penuh ujian karena sebentar lagi kami akan melewati  EBTA dan EBTANAS. Kali ini semua yang berbau pornografi merebak disekolah kami. Secara diam – diam kami mulai menukar blue film dalam format video betamax yang cukup besar atau majalah porno sejak kelas 2. Kami tidak berani membawanya ke dalam sekolah, tempat menukar barang haram tersebut adalah dibelakang sekolah, lapangan olahraga yang cukup besar dan terbagi dua lapangan yaitu lapangan basket dan sepakbola. Disitulah proses barter pun terjadi dan tidak jarang terjadi pertengkaran. Disekolah sering diadakan pengecekan isi tas mendadak oleh guru dan suster kepala sekolah, kalau ketahuan bawa barang – barang haram bisa dikeluarkan dari sekolah dan malunya tujuh keturunan. Jadi triknya titip dirumah teman yang dekat sekolah, sehabis pulang baru diambil…hehehhee

One day, saya sempat bertengkar dengan seseorang dari sekolah lain yang merasa sok tengil. Dan entah dengan alat apa, ia berhasil melukai leher belakang saya sehingga mengeluarkan darah. Saya sendiri tidak merasa bahwa saya terluka waktu itu, setelah diberitahu oleh teman karib  bahwa saya terluka. Saya baru ngeh, setelah tahubelakang baju saya penuh darah. Beruntung saya selalu membawa baju ganti dalam tas sekolah. Luka saya ditutup dengan perban oleh teman karib dan baju yang penuh darah saya cuci dikamar mandi sekolahan. Keesokannya, saya baru tahu bahwa yang saya tantang duel siang itu adalah dedengkot salahsatu sekolah mesin yang ditakuti. Tapi hasilnya, tentu….saya mendapat poin dimata teman-teman  disekolahan saya yang selalu tenang dan tidak pernah tawuran.

Masa itu penuh hura hura, karena kami harus sering datang ke pesta ulangtahun seorang teman agar tampak lebih bersosialisasi. Saya masih ingat, besok pagi saya harus ujian Ebtanas yang notabene saya tidak boleh keluar rumah oleh orangtua saya. Sementara ada seorang teman wanita yang berulangtahun malam itu, and I should be there with my friends. Dirumah saya pukul 9 malam pintu pagar + rumah sudah digembok, tapi saya tidak kehabisan akal. Jaman awal tahun 90an tidak ada pager atau HP, telpon umum adalah salahsatu komunikasi utama waktu itu. Dan tidak semua orang punya telepon rumah, sebuah koin 100 rupiah cukup berharga untuk menelpon rumah teman, jadi aman kalau mau bikin janji….

Jadi setelah jam 9 malam, sambil menunggu orangtua saya tertidur lelap. Saya mengendap-endap keluar rumah dan lompat pagar. Sementara diluar rumah sudah menunggu beberapa teman dengan sepeda motor bebeknya. Then we continued party until 12pm dengan lagu2 disco ala 90an semacam Jon Secada… padahal besok pagi akan ada ujian Ebtanas. Tapi saya masih bisa menempuh ujian dengan sangat baik dan hasilnya cukup memuaskan. Nilai Ebtanas saya waktu itu cukup membuat orangtua saya bangga, padahal malamnya saya baru pergi hura hura sampai tengah malam, saya juga bingung koq bisa….hmmmmm!

Hingga pengumuman kenaikan kelas pun dimulai, kami semua dikumpulkan dalam hall sekolah yang cukup besar. Ternyata yang dikumpulkan didalam hall tersebut lulus semua dan yang tidak lulus sudah diberitahu sehari sebelumnya. Jadi mereka yang tidak lulus, tidak akan hadir pagi itu. Kalau tidak salah hanya sekitar 3 orang yang tidak lulus pada tahun 1994. Karena corat coret baju sekolah dilarang, kami tidak kehabisan akal. Kami segera berbondong – bondong menuju ke lapangan olahraga yang cukup luas dibelakang sekolah. Disana kami sudah mengumpulkan pilox warna – warni dan spidol. And the party was begun…..baju SMA hasil corat coret teman – teman saya, masih disimpan dengan baik hingga kini. Saya ingin agar suatu saat saya masih bisa mengenang saat  kelulusan yang tidak mungkin terjadi dalam hidup saya lagi. I can’t get back to my old High School moment.

Tidak seperti sekolah lain, kali ini tidak ada darmawisata atau pagelaran kesenian untuk perpisahan sekolah saya. Kami semua menggerutu  mendengar pengumuman tersebut dari suster kepala sekolah. I told you dat she’s weird! Perpisahan kali ini diganti dengan acara retret. Huuuuuuuuuu……Padahal retret sudah kami lakukan pada waktu kelas 3 SMP. Dan lokasi retretnya pun ditempat yang sama yaitu di daerah Ciputat.

Tibalah waktu retret, ada sekitar 4 rombongan bus yang melaju menuju daerah Ciputat yang dulu masih asri dan hijau. Dari jalan raya Ciputat, kami masih harus berjalan kaki menuju lokasi retret yang berjarak 1 km. Lokasi retret dibagi dua kelompok yaitu pria dan wanita, kaum pria berada disisi kanan dan wanita di sisi kiri serta dipisahkan sebuah danau buatan yang tidak terlalu besar. Diujung terdapat sebuah kapel kecil dan juga ada kantin. Retret dilalui selama 3 malam dan malam pertama pun kami sudah bosan. Saya dan teman – teman dipaksa untuk bedah alkitab dan merenungi segala macam hal setiap jam. Waktu bebas adalah waktu makan saja di kantin. Malamnya kami berembuk ingin membuat suatu yang tidak membosankan, yaitu main kartu remi. Yang sangat diharamkan untuk dilakukan dalam komplek retret tersebut. Pukul 8 malam, kami semua harus masuk kamar yang menyerupai barak. Dan sejam kemudian seorang bruder akan memeriksa apakah kami sudah tidur atau belum.

Setelah bruder keluar dan keadaan aman, kami memberi kode berupa ketukan didinding kamar. Satu persatu kami keluar kamar dan berkumpul dikamar teman. Seorang teman membawa beberapa kaleng minuman ringan, coklat dan kacang. Satu orang lagi membawa rokok yang tentu tidak boleh digunakan dan satu orang lagi sudah menyiapkan kartu remi.

Kami bermain tanpa suara dan dengan cahaya minim yang berasal dari cahaya senter (tentu semua sudah diperhitungkan sebelumnya). Malam pertama kami berhasil tanpa ada rintangan, walau paginya kami cukup mengantuk waktu dibangunkan pukul 5 pagi untuk mengikuti ibadat pagi.

Malam berikutnya kami kehabisan suplai makanan ringan dan rokok. Dua orang teman saya memberanikan diri untuk mencoba keluar dari kompleks untuk membeli rokok. Sialnya mereka tidak berhasil menembus barikade pengamanan kompleks retret dan ketahuanlah tapi mereka berkelit ingin membeli makanan  ringan dibanding bilang ingin membeli rokok………..hahahaha. Selamatlah mereka.

Malam terakhir sepertinya kami harus berhati – hati, karena sang bruder juga tidak menengok kamar kami seperti malam sebelumnya. Huh malam terakhir gagal diisi dengan main kartu remi lagi sampai saya dan teman – teman tertidur. Selidik punya selidik ternyata malam tadi, sang bruder menemukan dua orang yang sedang asyik merokok dikebun belakang asrama….hahaha.

Akhirnya kami harus berpisah juga, waktu selama 3 tahun sudah dilewati oleh kami semua. Kami saling berpelukan satu sama lain dan saling menukar sesuatu untuk diingat. Hmm…..where are they now???

Entah kapan akan ada reuni untuk tahun 90an disekolah saya, yang pasti saat ini saya lost contact dengan mereka. Coba dulu ada prom nite seperti sekarang….wah pasti seru, apalagi ada buku tahunan…it’s gonna be a collectible item for me. Dan andaikata tehnologi sudah maju seperti camcoder, kami pasti sudah mengabadikan setiap moment yang ada. Kini beberapa lembar foto hasil jepretan saya yang masih tersisa, menjadi kenangan tersendiri buat saya hingga hari ini. Lucu juga kalau mengenang masa – masa SMA….coba ada mesin waktu buatan, pasti sudah saya beli…dan saya switch ke antara tahun 1991 – 1994….

What  about your high school diary? It must be exciting……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s