My High School Diary – Part One

Entah kenapa saya jadi ingin menulis mengenai masa – masa saya menempuh jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) yang kini berganti nama menjadi SMU (Sekolah Menengah Umum). Masa SMA saya dihabiskan di sekolah Katolik SMA Marsudirini Tanjung Priuk dari tahun 1991 – 1994. Sebenarnya saya sudah bosan bersekolah di swasta karena dari TK – SMP saya habiskan di sekolah yang sama. Saya bosan melihat tembok tinggi yang mengelilingi sekolah saya bagaikan tembok berlin dan beragam hal yang monoton. Saya sempat protes pada orangtua mengapa saya harus disekolahkan ditempat yang sama dan Bapak saya hanya menjawab singkat ,”Kalau pindah sekolah butuh biaya lagi.” Gubrakssssssssss, The case was closed.

Memang ditempat saya dulu tinggal (Kebantenan, Semper Timur, Jakarta Utara) hanya ada dua sekolah unggulan yaitu sekolah saya Marsudirini dan SMA 13. Pertama kali saya masuk kelas 1 SMA, tidak ada sesuatu yang membikin saya greget ingin segera masuk sekolah hari pertama. Karena saya tahu teman-teman saya juga tidak banyak beda dengan teman – teman kelas 3 SMP waktu itu. Yang beda hanya posisi kelas saja yaitu bertempat di lantai dua disisi utara bangunan sekolah yang menyerupai kotak persegi empat apabila diliat dari udara.

Masa – masa SMA dilalui sebagai masa pencarian jati diri, wanna be famous and wanna be seen. Kelompok – kelompok kecil dalam kelas bermunculan mulai dari kelompok kutu buku, kelompuk borjuis hingga kelompok the breakrule. Saya sudah bosan bersekolah dalam lingkungan yang tertutup dan serba disiplin walau kedisiplinan tersebut tetap membekas dalam hidup saya dan akhirnya memberi pembelajaran tersendiri.

Tahun 90an dipenuhi dengan musik heavymetal seperti Metalicca, Megadeth dan juga group Jon Bon Jovi dan kelas Sosial yang notabene sewaktu tes pemilihan jurusan saya seharusnya masuk kelas Biologi. Huh I loved Science, but social was my preferred. Dikelas Sosial tersebut saya menemukan teman – teman sehati yang menurut ilmu sosial mungkin disebut sebagai click atau kelompok kecil yang mempunyai satu rasa. Kelompok saya terdiri dari 6 pria, 3 orang peranakan dan 3 orang pribumi. Seperti kebanyakan sekolah swasta Katolik pada umumnya, kaum peranakan menjadi mayoritas disana. Walaupun saya seorang muslim tapi mereka sangat respect sekali terhadap kaum minoritas – pribumi dan muslim seperti saya.

Saya hanya ingat beberapa nama teman dekat saya yaitu Anto, Lim Hin Thong alias Tong – Tong dan Frans, the rest I forgot. Remembering a Name is always being my weakness. Kami berenam selalu duduk satu deret kebelakang dan tidak ada yang berani menggangu tempat duduk kami.

Suatu saat, akan ada misa jalan salib di gereja kami dan jarak antara sekolah dengan gereja kami sejauh 3 km dan harus ditempuh dengan jalan kaki. Sementara saya dan teman – teman sudah bosan dengan misa tersebut dan apalagi ditambah harus berjalan kaki beramai-ramai. Akhirnya kami sepakat dengan beberapa kumpulan teman dari kelas lain, kami memutuskan untuk kabur dari misa dan nongkrong di blok M. Tas sekolah tetap ada dikelas masing –masing dan biasa misa berlangsung hingga siang hari karena semua kegiatan tertuju di gereja.

Setibanya kami dikelas mau mengambil tas pukul 2 siang, wuih………..tas sekolah kami didalam kelas telah lenyap. Dan setelah tanya kesana kemari termasuk dengan penjaga sekolah akhirnya didapatlah informasi bahwa tas sekolah kami disimpan dalam ruang kepala sekolah. Yang berarti kami harus berhadapan dengan suster kepala sekolah yang terkenal galak. Tapi kami nggak pernah kehabisan akal, tiap hari kami patungan uang yang totalnya berjumlah 10 orang lebih dan uang yang terkumpul diberikan kepada penjaga sekolah agar kami bisa membawa tas kami pulang. The rule was, selama 1 minggu kami dihukum tas harus ditinggal diruang kepala sekolah karena ketahuan bolos misa gereja. The result was kami harus datang pagi sebelum jam 7 agar bisa mengembalikan tas ke ruang sekolah dan setelah jam 2 siang kami baru bisa mengambil kembali tas agar bisa dibawa pulang. Kenapa harus jam 2 siang? Karena suster kepala sekolah baru keluar ruangan jam 2 siang untuk kembali ke biara kesusteran yang terletak disamping sekolah kami yang sangat besar gabungan sekolah TK – SMA, biarawati, Rumah sakit bersalin dan Rumah Sakit Umum Swasta. You can imagine how big it is.

Sekolah di swasta pasti masih ada pelajaran tambahan sehabis sekolah dan  membosankan, yaitu pelajaran komputer dan bahasa Inggris. Pelajaran komputer yang masih jadul bangets yaitu program DOS dan etc membuat saya bosan, sehingga saya dan teman – teman ada akal. Saya dan seorang teman turun kelantai satu untuk mencari pusat sekring listrik dan setelah menemukannya, listrik di sekolah siang itu kami matikan beberapa saat. Kemudian kami naik kembali ke lantai dua dan seakan – akan tidak terjadi apa-apa. Guru komputer saya bingung karena listrik mati yang alhasil kelas harus dibubarkan  dan seluruh murid pulang – that’s what we wanted. Akhirnya kami pulang…

Itulah diary saya semasa kelas 1 SMA, kemudian kami pindah ke kelas 2 Sos dengan lokasi kelas yang berubah. Dan kami sudah mempunyai panggilan masing-masing, Komo – Koba – Kodim – Konak (maaf) dan saya masih lupa beberapa nama panggilan diantara kami. Dan dimasa ini peredaran pil koplo mulai merebak disekolah kami. Salah seorang teman memperkenalkan apa itu pil koplo dan kami memanggilnya BD (bandar). Tapi saya sering iseng kalau dapat pil koplo dari teman saya tersebut, disekolah kami dilarang jajan diluar sekolahan. Karena didalam sekolahan sudah disediakan kantin yang cukup lengkap dan rapi. Suatu saat teman saya Frans minta dibelikan minuman ringan di kantin, sementara dia lagi malas turun kelantai satu. Frans nitip satu minuman coke ke saya. Dan pas jam istirahat, saya mendapatkan satu paket pil koplo yang kemudian saya gerus dan dimasukkan kedalam minuman coke untuk Frans.

Istirahat pertama (10.00 – 10.30) minuman coke yang sudah dicampur pil koplo akhirnya berhasil diminum oleh teman saya tersebut. Jam pertama belum ada hasil, jam kedua baru ada hasil…Frans mengantuk dan tertidur hingga akhir jam pelajaran hari itu pukul 13.00. Setiap ada guru bertanya tentang Frans, kami sudah punya jawaban yang sama “Lagi nggak enak badan, Pak/Bu. Dia pusing banget.”  

Keesokan harinya, Frans memaki – maki kami karena dia tahu telah dikerjai. Still he’s not angry with us. Masih diseputar sekolah saya, ada sebuah gang kecil dekat kantin dan dekat dengan parkiran sepeda. Gang kecil itulah yang menjadi tempat kami nongkrong agar dikenal sesama kelompok lain disekolah. Terkadang kami harus sembunyi – sembunyi untuk merokok, merokok disekolah kami adalah sangat diharamkan dan bisa diganjar hukuman dikeluarkan apabila ketahuan oleh suster kepala sekolah kami yang galak. Tapi kami nggak kehabisan akal, ada beberapa diantara kami yang menjaga diujung kiri dan kanan gang tersebut. Agar apabila ada guru atau the killer sister akan lewat, kami  segera mematikan rokok dan membuang puntungnya didalam got. Nggak mungkin khan puntung rokok dalam got yang basah dan bercampur air kotor akan diambil untuk dijadikan bukti bahwa kami telah merokok.

Dimasa ini, saya juga berkenalan dengan seorang wanita yang menurut saya tidak terlalu cantik cuma menurut  dia cukup menarik buat saya waktu itu, her name was Susan.  Berambut panjang dan kriting, berkulit putih dan eksotis buat saya. Dengan bantuan teman  – teman, akhirnya saya bisa mendekati Susan dan kami jadian waktu itu. We became one of the hottest couples at the time in my school. We always went together if we had time, sampai kadang kelompok saya agak terlupakan sedikit. Tapi mereka bisa memahami koq, karena ini adalah sebuah proses. Everymen did it once.

Terkadang Susan membantu saya meminjamkan buku catatannya apabila saya dan teman-teman bolos sekolah waktu itu. She became our angel. Saya dan geng beberapa kali sering membolos dan kali ini kami sudah membawa motor masing-masing. Dengan motor bebek tersebut, kami biasa menuju ke mal atau melihat balapan motor yang sedang In waktu itu. Mal Kelapa Gading tidak sebesar sekarang, tapi sudah menjadi bagian tempat kami nongkrong selain Mal Blok M dan juga Mal yang paling gres waktu itu, Mal Pondok Indah. Everyone was so proud visiting there.

Pas menjelang kenaikan kelas, ada satu trik sendiri. Disetiap kelas ada sebuah buku laporan kehadiran yang wajib diisi oleh setiap guru mengenai jadwal kehadiran murid dan mata pelajaran yang telah dibahas. Dari buku itu ketahuan siapa yang absen karena ada daftar kosong yang akan diisi berupa nama murid yang dinilai absen hari itu. Dan lucunya buku itu dipegang oleh ketua kelas kami, yang sudah jadi “teman” buat geng saya. Jadi triknya setiap hari kami membolos sekolah (mungkin 1x sebulan), kami akan merobek perlahan-lahan lembaran yang mencatat kami tidak masuk hari itu. Agar pas pembagian rapot, absen kami nihil. Tapi pernah sikh kecolongan, absen saya tertulis 1 hari padahal mama saya selalu tahu bahwa saya tidak pernah membolos. But I always had good reasons to answer it …hehehehe…

Lain lagi cerita tentang konser Metalica, dimana – mana sedang demam konser tersebut. Dan digang sekolahan tempat kami nongkrong, anak – anak sudah ribut pengen nonton konser tersebut yang rencananya akan digelar di stadium Lebak Bulus yang berjarak puluhan kilometer dari sekolah kami waktu itu. Dan hasilnya kami sepakat naik bus kota untuk menghindari kerusuhan dan pakai sendal jepit. Sore hari kami sudah berangkat serombongan dari stasiun bus Tanjung Priuk jurusan Lebak Bulus. Kaos warna hitam bertuliskan group Metalica sepertinya sudah menjadi trademark sore itu. Tapi kami harus berhati – hati, karena takut dipalak atau malah dikerjain kelompok lain, jadi kami harus bertindak lebih rendah hati dan sopan agar selamat sampai tujuan.

Sesampainya di stadium Lebak Bulus yang waktu itu masih mentereng,  ribuan orang sudah berkerumun didepan pintu gerbang. Saya tetap was – was agar tidak berpisah dengan kelompok. Pukul 7 atau 8 malam, konser dimulai dan keriuhan bergema di dalam stadium malam itu. Belum sampai 3 lagu yang dibawakan oleh grup Metalica, dari luar stadium pintu gerbang mau didobrak oleh para perusuh yang tidak punya tiket dan mau masuk kedalam. Kami ketar – ketir juga waktu itu, nggak seru aja kalau ada kerusuhan. Dari dalam kami bisa melihat cahaya yang cukup terang dan asap yang beterbangan. Tapi kami masih belum tau ada apa waktu itu, hingga konser berakhir barulah kami sadar beberapa mobil dibakar massa yang beringas tidak bisa masuk kedalam stadium. Sandal saya copot  pada saat berebutan keluar stadium ada yang menginjak, sehingga saya harus berjalan tanpa alas kaki malam itu. Dan benar saja tebakan kami, pasti sangat susah menunggu bus ke arah Tanjung Priuk malam itu. Entah sudah berapa jauh kami berjalan kaki dan akhirnya kami harus naik taxi untuk kembali pulang. Dan sialnya kami harus naik taxi borongan karena si supir cukup pandai memanfaatkan situasi ini. Tapi yang penting kami selamat sampai dirumah dan konser telah berhasil ditonton.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s