Ijen 1860 dpl

Awal bulan Juni lalu, saya berkesempatan mengunjungi sebuah kota kecil di propinsi Jawa Timur. Dengan menggunakan bus yang ditempuh selama 3 jam lebih, akhirnya tibalah saya di kota Bondowoso.

Kota bondowoso ini berpenduduk sekitar 650.000 jiwa dan berhawa sejuk. Tepat pukul 04.00 sore, saya tiba disebuah hotel yang cukup mewah. Ijen View Resort, hotel bergaya tropis minimalis ini merupakan hotel paling mewah di kota Bondowoso. Suatu hal yang sangat mengejutkan bahwa dikota ini terdapat hotel mewah dengan gaya arsitektur Bali.

Setelah menikmati makan malam di pinggir kolam renang yang cukup besar, saya menyempatkan diri berjalan-jalan mengitari kota Bondowoso. Salah satu kegiatan favorit saya setiap mengunjungi sebuah kota adalah menemukan alun-alun kota tersebut. Karena disetiap kota di Indonesia pasti terdapat alun – alun dan merupakan pusat keramaian.

Malam itu, kota Bondowoso cukup ramai. Di sekitar alun – alun, banyak ditemukan para pedagang kaki lima yang menjual pernak-pernik hingga makanan. Saya menyempatkan duduk disalahsatu lesehan kaki lima dan menikmati wedang ronde…..salahsatu minuman penghangat khas kota yang berhawa sejuk tersebut.

Disalahsatu sudut alun – alun dapat ditemukan sebuah Monumen yang bernama Gerbong Maut….replika Gerbong Maut tersebut menyita perhatian saya malam itu, setelah menikmati hidangan wedang ronde. Menurut cerita, pada tanggal 23 November 1947 gerbong maut tersebut membawa para pejuang kemerdekaan RI dari stasiun KA Bondowoso menuju penjara Kalisosok, Surabaya. Karena cuaca yang sangat panas dan suasana gerbong yang penuh sesak, para pejuang berteriak kehausan. Tapi teriakan mereka tidak digubris oleh para penjajah Belanda, akhirnya sekitar 40 pejuang kemerdekaan RI ditemukan tewas akibat kehausan dan kepanasan. Dan setiap hari Pahlawan, masyakarat dan pemda Bondowoso memperingati peristiwa tersebut di depan monumen gerbang maut.

Keesokan harinya tepat pukul 03.00 dini hari, saya meninggalkan hotel dan menuju kekawasan pegunungan Ijen. Jalan yang sempit, berbatu, menanjak serta berliku menjadi tantangan tersendiri pagi hari itu. Perjalanan ke kawasan pegunungan Ijen dapat ditempuh selama 1,5 jam dengan mobil. Sesampainya di pos penjagaan perhutani Ijen, saya berhenti dan menunggu terbitnya fajar. Hawa dingin pegunungan Ijen segera menusuk relung tulang dan semburan hawa segera keluar setiap kali saya berbicara. saya segera menuju api unggun untuk menghangatkan diri bersama-sama dengan para penjaga pos.

Menurut keterangan yang saya dapat dari penjaga pos, kawasan pegunungan Ijen merupakan kawasan perkebunan kopi Arabika dengan kualitas ekspor dan memiliki cita rasa yang khas. Tidak heran setiap mobil yang akan keluar dari pos ini akan diperiksa, dikhawatirkan para penduduk membawa kopi ilegal keluar dari kawasan perkebunan. Banyak rombongan wisatawan asing yang memasuki area perkebunan ini.

Lambat laun, matahari mulai menunjuk menunjukkan keperkasaannya dari balik kawah gunung Ijen. Dan tumbuhan kana yang berwarna warni, terlihat sangat mempesona pagi itu. Kemudian saya melanjutkan perjalanan ke PalTuding, tempat perkemahan untuk menuju kawah gunung Ijen. Selama perjalanan, kita bisa meyaksikan pemandangan suasana perkampungan yang masih asri dan sebagian penduduknya masih berselimutkan sarung karena hawa dingin pegunungan.

Paltuding berada di ketinggian 1860 dpl (diatas permukaan laut) dan jalan terakhir menuju kawah Ijen….disini kita bisa menyaksikan para penambang belerang yang diambil dari kawah Ijen. Gunung Ijen sendiri merupakan gunung berapi aktif dan memiliki kandungan belerang yang berlimpah. Para penambang sendiri hanya berbekal dua buah keranjang untuk membawa belerang dan mereka menggigit kain basah untuk mengambil nafas di dasar kawah Ijen. Karena kandungan fosfor yang tinggi menyebabkan nafas manusia bisa sesak…perjalanan menuju kawah ijen dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 1 – 1,5 jam.

banyak wisatawan asing yang melakukan pendakian hingga ke kawah Ijen, pemandangan menarik kawah Ijen memikat para wisatawan termasuk saya pribadi. Air kawah gunung Ijen yang berwarna hijau tosca dan terkadang berwarna biru dengan asap belerangnya memberikan nuansa magis tersendiri.

Setelah dari kawah Ijen, saya melanjutkan perjalanan. Ternyata kawasan gunung Ijen merupakan taman nasional yang menyimpan berbagai flora dan fauna. Hutan tropis primer bisa kita saksikan di sekitar taman nasional. Menurut penuturan para penjaga pos, macan kumbang dan serigala hutan masih banyak terdapat di taman nasional ini. Semoga kawasan ini dapat selalu terjaga dengan baik.

Dan perjalanan saya dilanjutkan menuju ke pelabuhan ketapang, banyuwangi. Kapal feri membawa saya menyebrangi selat Bali yang hari itu sangat mempesona dengan latar belakang gunung Ijen dibelakang saya serta taman nasional Bali barat didepan.

Aufwiederseht, Ijen……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s