Gadis – Bab 2

Siang ini adalah hari pertamaku mengajar dan pengemis cilik itu adalah murid pertamaku. Bertempat di pojokan stasiun KA Tanah Abang, ruang sempit berdinding triplek dengan ukuran 4 x 3 meter adalah ruang kelasku.

Semenjak mengambil studi lapangan dari sekolahku, aku tertarik untuk mengajar anak-anak kurang mampu. Dengan seijin kepala stasiun KA Tanah Abang, aku diperbolehkan menggunakan ruangan sempit itu. Dengan bermodal papan tulis, kapur dan beralaskan tikar, aku mencoba untuk membagi ilmu.

Kami berdua memasuki ruang kelasku dan aku membuka jendela agar udara segar masuk. Setelah menebar kain tikar diatas lantai ubin, kemudian aku membuka tas sekolahku. Satu persatu kuambil dari dalam tas, sekotak kapur tulis dan penghapusnya, beberapa buah pulpen dan beberapa buku tulis serta dua buah jeruk sun kist yang aku ambil dari rumah.

“Ini pulpen dan buku tulis buat Lo” sambil kuserahkan
ke muridku yang pertama, si pengemis cilik itu dan ia
menerimanya dengan senang hati.

“Dan ini jeruk buat Lo” kataku.

Kami berdua mengupas dan memakan jeruk itu.
“Lo tau berapa harga satu jeruk ini” tanyaku.
“Tau….seribu perak sebiji” jawab si pengemis cilik itu.
“Lo tau cara nulis angka 1000?” tanyaku.
“Kagak….”jawabnya lugas.

Aku tersenyum mendengarnya dan segera aku mengambil sebatang kapur tulis serta menuliskan bilangan angka 1000 di papan tulis.

“Nah kalo nulis kata-kata JERUK, Lo tau ?” tanyaku kepada si pengemis cilik itu.
“Kagak tau…”jawabnya dengan lugas.

Dan kembali aku menuliskan huruf J E R U K di papan tulis. Kemudian aku duduk kembali dan bertanya “Gw kagak tau nama Lo”.

“Nama gw SARI” jawabnya.
“Makasih Sari…nama gw GADIS. Tapi teman-teman disekolah biasa manggil gw ADIS” sambil aku menuliskan huruf ADIS dan SARI di papan tulis.

Kali ini, aku mengambil sebuah buku komik Donald Bebek kegemaranku dari dalam tas sekolah dan memberikannya ke Sari, pengemis cilik itu.

“Suatu hari nanti, Lo akan bisa membaca apa isi cerita komik itu” tukasku.
“Tapi Lo harus belajar membaca dulu biar bisa tau apa isi ceritanya” tegasku lagi.

Dan aku segera mengarahkan pandangannya ke sebuah kumpulan abjad dari A-Z yang tertempel di dinding ruang kelasku. Dan satu persatu aku ajarkan abjad-abjad itu dan cara melafalkannya.

Tanpa kusadari sudah dua jam berlalu.
“Sari….hari sudah sore, kita pulang dulu yakh dan
besok siang kita ketemu lagi disini” pintaku.

Dan pengemis cilik itu menganggukkan kepala tanda setuju.

Kami berdua segera meninggalkan ruang kelas dan perpisah di ujung jalan keluar stasiun KA Tanah Abang.

Hari demi hari sudah aku lewati, kini muridku bertambah dua orang. Inay, gadis cilik berumur sekitar 8 tahun anak Bu Suminah, penjual nasi pecel di stasiun KA Tanah Abang. Panjul, bocah berumur sekitar 11 tahun, seorang pengamen di kereta api jurusan Tanah Abang-Serpong.

Tiba-tiba sebuah keributan kecil terjadi didalam kelas.
“Anjing Lo….balikin pulpen gw” makian kasar itu memecah konsentrasiku tiba-tiba.

“Ada apa Inay ?” tanyaku kembali.
“Panjul….Kak Adis……dia ngambil pulpen saya” jawab Inay dengan tegas.

“Panjul….ayo balikin pulpen Inay !” pintaku.
“Huh…ngadu aja Lo bisanya….neh !” sambil melempar pulpen itu kearah Inay.

“Pulpen kamu kemana Panjul ?” tanyaku kembali.

Panjul terdiam sejenak dan berkata “Hilang Kak !”
“Ya udah…ini kakak kasih lagi…tapi kamu jangan ganggu yang lain yakh kalau kakak sedang mengajar” pintaku dengan tegas.

Dan aku segera mengambil pulpen dari dalam tas sekolahku dan memberikannya ke Panjul.

Tapi tiba-tiba Panjul berdiri dan segera berlari keluar meninggalkanku.
“Panjul….mau kemana kamu ?” tanyaku.

Aku lari keluar dan menghampirinya.
“Panjul….mau kemana kamu?” tanyaku sambil berlari.

Ia terus berjalan menelusuri rel kereta api dan tidak menjawab pertanyaanku.

Setelah berhasil mengejarnya, aku bertanya ,“Panjul……..kamu mau kemana ?”
Di hadapannya aku kembali berkata “Panjul….Kak Adis nggak marah sama kamu”

“Bohong !” jawabnya dengan lantang.
“Panjul Kak Adis nggak bohong…..buat apa Kak Adis bohong” jawabku dengan yakin.

“Kak Adis nggak mau kamu mengganggu yang lain hanya karena pulpen kamu hilang, kamu bisa bilang sama kakak khan !” kataku.

“Kalau pulpen kamu hilang….kamu bisa minta lagi…Kak Adis masih ada kok di tas” jawabku meyakinkannya.

“Percaya dekh sama kakak….Kak Adis nggak marah….Kak Adis hanya mau kamu bisa membaca dan belajar dengan baik” jawabku.

Malam minggu, aku janji menemani Dani untuk pergi bersamanya menonton film di TIM (Taman Ismail Marzuki). Waktu sudah menunjukkan pukul 18.45, tidak lama kemudian Mamaku memanggil.

“Dis…..temanmu datang!” teriak mamaku.

Aku segera bergegas keluar kamar dan menemui Dani diserambi rumahku.
“Yuk kita pergi sekarang,” pintaku.

“Ma….gadis pamit dulu yakh,” tukasku.
Dan mama keluar dari kamarnya, “Nanti pulang jam berapa?” Tanya mamaku.

“Jam 11…Ma,” jawabku.
“Yakh sudah jangan malam-malam, hati-hati di jalan yakh!” pesan mamaku.

“Assalamualaikum,” tukasku.
“Walaikumsalam,” jawab mamaku.

“Mari Tante…,” tukas Dani.
Dan mamaku tersenyum simpul.

Didalam mobil, Dani sempat bertanya,”kamu sudah makan?”
“Sudah….kamu?” jawabku.

“Belum….tadi belum sempat takut macet. Mau makan?” pintanya.
“Aku temenin kamu makan aja yakh…..khan aku udah makan tadi!” jawabku.

Akhirnya kami memutuskan makan bubur ayam cikini salahsatu makanan kesukaanku. Setelah menikmati satu mangkok bubur ayam cikini, kami bergegas menuju bioskop 21 yang malam minggu itu cukup ramai penonton.

Entah mengapa, memasuki ruang bioskop TIM 2 hatiku berdegup kencang. Mungkin ini karena kencan pertamaku dengan Dani.

Selama hampir 2 jam kami berdua menikmati pemutaran film “Eifell I am in love”. Dani sempat memegang salah satu tanganku malam itu dan membuat jantungku berdegup dengan hebat. Ah…aku jadi salah tingkah.

Sesampainya dirumahku, aku masih tersenyum-senyum di depan cermin kamarku. Am I in love? Tanyaku dalam hati.

“KRINGGGGGGGGGGG…………”, bunyi bel sekolahku yang cukup mengagetkan tapi membuat hatiku senang.

“Dis………..”, sebuah suara memanggilku dan ternyata Nina sahabatku.
“Gimana kencannya tadi malam, Dis?” Tanya Nina menggodaku.

“err….biasa aja sikh!” jawabku.
“Masak sikh………tapi koq muka kamu merah gitu!” balas Nina.
“Ih kamu jahat………”jawabku dengan malu.

Nina sahabatku dari bangku SMU kelas 1, dia yang selalu menjadi teman curhatku selama ini. Satu hal yang aku suka darinya, walau dia anak orang berada tapi tidak sombong. Pak Burhan, supir keluarga Nina sudah menunggu kami dihalaman depan sekolahku dan kali ini saya menumpang sampai di perempatan Slipi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s