Bersahaja di Tengah Puing Reruntuhan – part two

Bantul, 10th June 2006 – Pagi itu saya bangun pukul 07.00 dan kemudian mandi di salahsatu kamar mandi yang tersisa. Jangan bayangkan kalau di kamar mandi tersebut terdapat pompa airnya, terpaksa saya pagi itu harus menimba air di salahsatu sumur. Ingatan saya langsung teringat rumah si Mbah di Tulungagung, Jawa Timur. Menimba air pagi itu menjadi olahraga pagi tersendiri buat saya.

Setelah selesai mandi dan berpakain, saya segera mempersiapkan makanan bayi yang saya masukkan ke dalam tas ransel gunung. Dengan diantar teman saya Adam, perjalanan saya dimulai dengan motor bebek.

Kawasan Imogiri yang berdekatan dengan situs makam kerajaan tidak luput dari gempa, hamper 80% rumah di tempat tersebut hancur. Pasar Imogiri juga mengalami kerusakan, walau saat ini pasar tersebut telah digunakan kembali oleh masyarakat sekitar. Yang menjadi perhatian saya pagi itu adalah seorang Ibu yang masih mempunyai balita. Tidak jauh dari tempat saya berdiri, ada seorang Ibu yang sedang menggendong bayinya. Beberapa susu SGM untuk balita dari seorang donatur (Warung Ceker) segera saya berikan, ucapan terimakasih yang tulus membuat hati saya trenyuh.

Desa Jetis dan Bambanglipuro di kawasan Bantul, menjadi target saya juga untuk membagikan makanan dan susu bayi. Entah sudah berapa banyak yang sudah saya bagikan dan mereka menerima dengan senang hati. Tidak lupa saya secara pribadi mengucapkan terimakasih kepada para donatur yang sudah menyisihkan sebagian rezekinya untuk para pengungsi……

Didaerah Jetis, Bambanglipuro serta Imogiri sudah banyak terdapat tenda-tenda sumbangan dari berbagai negara seperti Inggris, Iran, Jepang dan Australia. Sementara posko kesehatan dari Iran juga buka didaerah Bantul.

Beberapa rombongan sukarelawan dari TNI AD baru saja turun dari truk mereka, dan segera membantu membersihkan puing-puing dengan dibantu sebuah alat berat. Anak-anak sekolah terpaksa belajar di halaman karena mereka takut terjadi gempa dan bangunan sekolahan mereka tidak layak pakai. Saat itu saya merasa terharu dengan kegigihan para guru di Bantul yang tetap mengajar, walau dibawah sebuah tenda besar dan papan tulis seadanya.

Beberapa jembatan yang retak-retak karena gempa telah selesai diperbaiki dan dapat dipergunakan kembali. Sore itu, pemandangan sawah yang menguning menjadi hiburan tersendiri buat mata saya. Tuhan YME memang adil, masyarakat disana masih diberi berkah dengan padi – padi mereka yang telah menguning dan siap dipanen.

Karena kelelahan akibat cuaca panas yang menerpa tubuh saya, sore itu saya sudah merebahkan diri di atas tikar di dalam tenda pengungsian. Setelah terlelap beberapa saat, saya terbangun dan ternyata sudah pukul 6.30 PM. Saya segera mandi dan berganti baju, tidak lama saya segera membaur dengan masyarakat Panggungharjo.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat baca di email mengenai tanda-tanda gempa yang bisa dibaca melalui bentuk awan vertical. Awan vertical tersebut disebabkan karena dasar bumi mengandung medan elektromagnetik yang besar. Ternyata beberapa diantara penduduk desa panggungharjo sempat menyaksikan awal vertical diatas kali Opak, Bantul sehari sebelum gempa. Tapi mereka tidak ngeh bahwa awan tersebut salahsatu tanda gempa.

Yang sempat menjadi perbicangan malam itu, patahan gempa yang berawal dari Kali Opak di selatan Bantul hingga kraton serta kawasan prambanan. Seluruh patahan gempa melewati situs – situs bersejarah keraton seperti kawasan Imogiri, Kraton, serta Prambanan. Buat masyarakat sekitar, gempa kali ini menjadi sebuah sinyalemen tersendiri akan keutuhan keraton serta ngerso dalem (panggilan buat sri sultan) yang menjadi pemimpinnya.

Masyarakat Jawa yang tidak lepas dari kultur mistis, sempat menceritakan hal-hal mistis pasca gempa yang terjadi didesa panggungharjo, Bantul. Seminggu setelah gempa terjadi, tepatnya malam Jumat Kliwon yang dipercaya oleh masyarakat Jawa mempunyai nuansa mistis, Pak RT malam itu bercerita bahwa malam itu dua orang yang sedang jaga malam dikejutkan oleh segerombolan orang yang sedang berjalan beriringan. Namun wajah mereka terlihat pucat pasi, sampai salah seorang diantaranya ngeh (kenal) kalau yang sedang berjalan tersebut adalah tetangganya yang telah meninggal.

Tidak jauh dari tenda yang saya tempati, berjarak sekitar 200m merupakan kuburan massal korban gempa. Satu liang lahat diisi sekitar 4 – 5 jenasah korban gempa, dan salah satu korban gempa yang tewas tersebut sering menampakkan diri kepada penduduk sekitar yang selamat dan sering menggoda “Syukur, omahmu roboh! Wis melu aku wae!” (syukur rumahmu roboh, mending ikut saya saja) ujarnya.

Bahkan sering ada yang melihat lentera lampu yang berjalan sendiri, akhirnya beberapa waktu yang lalu mereka secara swadaya mengadakan tahlilan 7 hari untuk para korban gempa yang tewas. Dan hal-hal mistis tersebut dilaporkan belum terjadi lagi, tapi tetap saja hal tersebut membuat bulu kuduk saya merinding karena kuburan massal hanya berjarak sekitar 200m dari tenda pengungsian.

Diluar hal mistis tersebut, penduduk sekitar mempunyai semangat hidup yang tinggi dan mereka selalu berujar bahwa masih syukur mereka bisa selamat, sementara harta benda yang hilang dan hancur bisa dicari lagi suatu saat. Sikap nrimo dan gotong royong mereka, membuat saya yakin bahwa kehidupan masyarakat Yogya dan Jateng bisa pulih dalam waktu cepat.

Tidak lupa mereka bercerita, selepas gempa mereka sempat panic karena adanya isu tsunami. Isu tsunami tersebut muncul karena beberapa sumur sempat luber airnya kepermukaan dan ini yang menjadi pemicu panic massal pada masyarakat sekitar. Akibat panic massal tersebut, beberapa nyawa tidak terselamatkan karena mereka berusaha menyelamatkan diri sendiri hingga lupa masih banyak korban yang tertimpa reruntuhan bangunan.

Malam pertama setelah gempa, mereka tidak berani membangun tenda di dekat rumah. Areal persawahan menjadi salahsatu pilihan utama mereka, dan yang paling menyedihkan hujan deras mengguyur selama 2 malam. Sehingga menyebabkan mereka kebasahan dan kedinginan akibat hujan deras, sementara di dalam tenda yang diutamakan adalah anak-anak serta orangtua. Dan kaum mudanya merelakan diri basah serta kedinginan akibat hujan.

Mereka masih trauma akibat gempa, karena gempa susulan masih terjadi beberapa kali di Yogya dan sekitarnya. Sehingga banyak dari mereka yang selalu tinggal di dalam tenda, karena rumah mereka masih retak2 dan takut roboh akibat gempa susulan.

Dari tengah persawahan dan diterangi bulan purnama, sosok gunung Merapi yang angkuh memperlihatkan keperkasaannya. Luberan lavanya menjadi hiburan tersendiri buat saya, membuat saya terkagum-kagum. Kesempatan ini menjadi moment tersendiri buat saya, setelah di tahun 1995 sempat menyaksikan luberan lava dari daerah Babarsari.

Karena saya masih belum bisa tidur, segera saya menghubungi teman lama saya – Nina yang tinggal di komplek rektor UGM. Tidak lama akhirnya saya sampai juga di rumahnya yang masih berarsitektur art deco, maklum ayahnya merupakan rektor anthropologi UGM terkenal, Pak Teuku Jacob. Nina teman saya sempat bercerita betapa paniknya dia dan keluarganya sewaktu mendengar ada isu tsunami. Padahal jarak antara UGM dan Parangtritis sekitar 20 km, jadi sangat mustahil tsunami menerpa kawasan mereka. Tapi dia dan keluarganya dengan naik mobil menuju kearah kaliurang.

Dengan mengendarai mobilnya, saya sempat menikmati malam minggu di yogya yang waktu itu masih ramai. Dan tidak tampak bahwa baru terjadi gempa. Di kawasan Malioboro tidak ada bangunan yang runtuh akibat gempa. Hanya Mal Malioboro yang retak-retak dan beberapa kacanya pecah, saat ini sudah buka kembali dan direnovasi.

Alun-alun utara dan selatan masih dipenuhi oleh pengunjung. Di alun-alun utara terdapat 4 buah tenda besar milik Medicine Saint Frontiere. Dan warung-warung lesehan masih buka hingga tengah malam.

Tidak semua kota Yogya terkena gempa, sehingga denyut nadi kehidupan masih berjalan normal. Yang saat ini diperlukan selain bantuan dana untuk membangun rumah – rumah yang hancur karena gempa, tenaga sukarelawan sangat dibutuhkan. Menurut penuturan teman saya, mahasiswa UGM sebagian besar dalam minggu tenang untuk memasuki ujian akhir semester. Beberapa mahasiswa/i UGM sudah diturunkan sebagai relawan bagi pengungsi Merapi di desa Cangkringan.

Ada beberapa kampus yang roboh akibat gempa seperti kampus Sekolah Tinggi Seni Indonesia yang bangunan utamanya roboh dan 3 gedung berlantai 6 tidak bisa digunakan karena retak-retak. Kampus sekolah tinggi ekonomi di jalan kaliurang juga roboh serta sebuah kampus ekonomi di ujung jalan babarsari juga hancur gentengnya dan sebagian bangunannya retak2. Beruntung kampus atmajaya dan bekas kostan saya dibabarsari tidak runtuh karena gempa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s