A Memoir of Jugun Ianfu

Suatu saat Kim Hak Sun, seorang wanita pemberani dari Korea Selatan pada tahun 1991 membuka suara tentang perlakuan para tentara Jepang di masa perang Dunia II.  Dari penuturannya tersebut, dunia tersentak. Kim Hak Sun menceritakan kisahnya sebagai budak nafsu para tentara Jepang yang menginvasi wilayah Korea dan sekitarnya di awal tahun 1940-an. Kisah hidupnya ini segara membuka mata dunia bahwa pasukan tentara Jepang di era PD II ternyata meninggalkan luka yang mendalam bagi kaum wanita di Asia.

                Dari sinilah, para mantan Jugun Ianfu diseluruh Asia segera memberanikan diri membuka suara. Wanita-wanita dari Korea, Taiwan, Thailand, Filiphina, Malaysia dan Indonesia segera membuka suaranya. Untuk di Asia Tenggara sendiri, para mantan Jugun Ianfu banyak terdapat di Indonesia. Ada ribuan wanita yang telah menjadi saksi bisu kekejian tentara Jepang pada era PD II.

                Mereka yang telah ditelantarkan selama puluhan tahun tanpa tahu harus kemana mengadu. Saya jadi ingat cerita teman saya tahun lalu. Pada saat natal tahun 2006, teman saya mengunjungi kampung halamannya di Blitar, Jawa Timur. Suatu saat ia mengunjungi sebuah panti jompo yang ternyata menampung para mantan Jugun Ianfu. Ia bercerita bahwa ada beberapa orang mantan Jugun Ianfu yang mengalami gangguan kejiwaan. Ada yang selalu tersenyum, tiba-tiba tertawa dan kemudian menangis setiap ia bertemu dengan seorang pria yang tidak ia kenal. Kenangan masa silamnya yang sangat menyiksa batin dan otaknya, mempengaruhi perkembangan jiwanya kini. Dan ada juga menurut teman saya, para mantan Jugun Ianfu yang tidak diterima masyarakat. Ia dicampakan oleh masyarakat karena sebagai mantan budak nafsu tentara Jepang. Ia diasingkan oleh masyarakat dan bahkan oleh keluarganya sendiri. Ia harus berjuang hidup dan sampai hari ini apabila beliau masih diberikan nafas oleh Yang Maha Kuasa, mungkin beliau masih hidup dalam kesendirian tanpa sanak saudara di panti jompo tersebut. Teman saya sampai menangis sewaktu bercerita kepada saya.

                Barusan saja saya menonton tayangan tentang kisah kehidupan para mantan Jugun Ianfu disebuah televisi swasta yang menjadi inspirasi buat saya untuk membuat tulisan ini. Beberapa diantaranya masih hidup. Salahsatu yang masih hidup saat ini berasal dari Cimahi, Ia diculik oleh tentara Jepang pada saat ia masih berumur 16 tahun. Kemudian ia dibawa kesebuah camp tentara Jepang dan disana ia diperiksa kesehatannya plus kegadisannya. Setelah lolos cek kesehatan, malam harinya Ia dipaksa melayani para tentara Jepang. Dan saat itulah ia kehilangan kegadisannya di umur yang masih belia, Ia sangat shock sekali sehingga memilih bunuh diri saja malam itu. Ketakutan yang amat sangat terpancar dari wajahnya pada saat ia menceritakan kisah hidupnya yang tragis tersebut.

                Dalam satu hari, ia harus mampu melayani 10 – 15 lelaki dan kalau malam ia harus melayani para opsir (kepala tentara) pasukan jepang. Apabila ia tidak mau melakukan hubungan seksual dengan mereka maka ia akan dipukuli. Beberapa kali ia mencoba menghabisi nyawanya karena ia sudah tidak kuat lagi.

                Ada lagi mantan Jugun Ianfu yang berasal dari Banjarmasin, karena harus dipaksa melayani nafsu bejat para tentara Jepang. Rahimnya harus diangkat, karena sudah rusak dan dikhawatirkan merusak kesehatannya. Hingga kini, beliau tidak mempunyai anak dan suami. Sahabatnya yang juga mantan Jugun Ianfu telah wafat beberapa tahun yang lalu dan kini ia harus hidup mandiri. Kisah hidupnya sangat tragis, saya membayangkan betapa sakitnya serta sedih yang tiada tara semasa diangkat rahimnya. Kehormatannya sebagai seorang wanita telah raib akibat kekejian tentara Jepang.

                Pengakuan mantan Jugun Ianfu dari Blitar lain lagi, ia dipaksa menjadi Jugun Ianfu sewaktu ia masih berumur 10 tahun. Dari tahun 1942 – 1945, ia harus berada di camp Jugun Ianfu yang berlokasi disebuah daerah di Surabaya. Tiap malam ia harus melakukan hubungan badan dengan para tentara Jepang. Dan pada saat para tentara itu mabuk, ia harus rela disiksa oleh mereka. Selama 3 tahun ia menjadi pelayan nafsu bejat tentara Jepang hingga sekutu mengusir Jepang dari wilayah Surabaya. Ia harus merangkak keluar dari campnya pada saat tentara Jepang pergi dari camp tersebut pada tahun 1945.  Dari Surabaya ia kembali ke Blitar dan hingga saat ini beliau menikah dan dikaruniai oleh beberapa anak serta cucu. Tapi luka lama masih sangat membekas di hatinya.

                Beberapa diantaranya masih beruntung, masih diterima kembali oleh keluarga serta masyarakat sekitarnya. Ada yang menikah serta hidup berkecukupan. Tapi masih banyak yang hidup menderita tanpa bantuan apa pun dari pemerintah. Banyak juga dari mereka yang menjadi hilang ingatan, bunuh diri serta hidup kekurangan.

                Sungguh ironis memang kisah hidup mereka, satu sisi pemerintah Jepang sepertinya sengaja membungkam diri serta membungkam negara-negara yang pernah ia jajah dengan bantuan paket ekonominya yang sangat menggiurkan dari sisi ekonomi nasional suatu negara termasuk Indonesia. Perjuangan para mantan Jugun Ianfu dari berbagai negara dianggap seperti angin lalu saja bagi pemerintah Jepang. Para mantan Jugun Ianfu hanya meminta pertanggungjawaban berupa permintaan maaf serta bantuan materi dari pemerintah Jepang. Karena banyak dari mereka yang hidup sengsara dan memerlukan bantuan secepatnya.

                Sejarah telah menorehkan tinta merah dan hanya ketulusan hatilah yang sanggup menghapus kesalahan serta luka yang lama…………In memoriam for the victims of Jugun Ianfu in Indonesia. May God bless you and rest in peace.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s