Penang, Bangkok, Phuket – The Border

Phuket, 8 Oktober 2011, hujan deras melanda Phuket dari pagi hingga siang dan udara dingin segera menyeruak memasuki balkon kamar hotel yang basah terkena air hujan. Trip ke Phi Phi island dibatalkan karena ombak dan angin kencang membahayakan pelayaran. So we just hang around at the hotel seeing the front beach from the balcony.

11.30 pagi waktu Phuket, kami segera memesan taksi di hotel, hotel mengenakan tarif 600 Baht untuk mengantar kami ke Stasiun Bus Phuket. Tapi ternyata karena hujan, taxi penuh sehingga saya diharuskan mencari taksi sendiri. Pengalaman buruk sebelumnya membuat saya harus berhati-hati terhadap supir taksi di phuket. Tidak jauh dari hotel terdapat taxi charter dan ketika saya menanyakan tarifnya hanya 450 Baht, lebih murah dari tarif taksi hotel.

Selesai packing, kami segera menuju taksi dan Alhamdullilah ya…supir taksinya orang muslim asli Phuket dan ia bercerita bahwa keluarganya banyak yang berbisnis hotel dan penyewaan mobil di Patong Beach. Ia sangat ramah sekali dan bahkan jauh dari bayangan saya akan supir taxi pemabuk yang membawa kami tadi malam. Ia juga bercerita bahwa beberapa waktu lalu mendapatkan tamu dari Majelis Ulama Indonesia.

Perjalanan dari hotel ke stasiun bus terdekat sekitar 45 menit dan ia bercerita bahwa disepanjang perempatan jalan banyak terdapat pedagang bunga untuk berdoa. Biasanya rangkaian melati untuk ditaruh dimobil tapi agak membahayakan karena banyak pedagang bunga menggunakan formalin agar bunganya tetap segar. Wah jadi ingat para pedagang di Indonesia yang sering menggunakan formalin untuk makanan….huftt

Sampai di stasiun bus, hujan masih membasahi kota Phuket. Stasiun busnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu bersih, sama seperti stasiun bus di pulau Jawa. Saya segera mendatangi counter pemesanan tiket bus, tiket bus Phuket – Hatyai (perbatasan Thailand – Malaysia) seharga 344 Baht/orang untuk bus kelas 2 dengan jadwal sebagai betrikut dari stasiun Phuket : 07.30, 08.30, 09.30, 11.30, 12.30, 19.30, 21.30. Sementara bus kelas 1 seharga 535 Baht berangkat jam 19.30 untuk perjalanan darat selama 7 jam.

Supir taksi dengan setia menunggu saya hingga selesai mendapatkan tiket bus, sebagai penghargaan saya memberikan tips 50 Baht jadi total taksi charter yang saya bayar 500 Baht. Perjalanan darat menuju keperbatasan akan memakan waktu yang lama sehingga disarankan untuk makan siang/malam sebelum berangkat dan membawa cemilan serta air mineral di bus.

Setelah selesai memasukan bagasi didalam bus, saya minta ijin kepada kondektur bus untuk makan siang terlebih dahulu. Sebuah warung sederhana terdapat didepan stasiun bus. Dan wow ada daging babi…jadi saya harus ganti menu. Beberapa menu yang tersedia mirip dengan menu di Indonesia, saya memilih sayur rebung muda dan opor ayam. Rasanya pun sama seperti di Indonesia dan kali ini lebih pedas daripada makanan di Bangkok. Ternyata masyarakat Phuket menyukai masakan pedas sama seperti masyarakat Sumatra.

Selesai makan, kami berdua hanya dikenakan charge 125 Baht atau hanya Rp 37,500 saja…wow lumayan murah untuk makan siang yang cukup banyak. Dan untuk cemilan, saya membeli beberapa roti dan air mineral.

Pukul 12.30 tepat, bus berangkat dan Bismillah. Transportasi di Thailand lumayan tepat waktu, mulai dari Bangkok hingga Phuket…patut diacungkan jempol untuk budaya tepat waktunya. Perjalanan darat keluar dari Phuket terasa sangat menyenangkan karena pemandangannya yang menarik, sama seperti di pulau Sumatera. Masih banyak ditumbuhi hutan tropis dan pantai-pantai indah. Dan bahkan saya baru menyadari bahwa Phuket adalah sebuah pulau yang cukup besar dan dipisahkan oleh sebuah jembatan yang tidak terlalu panjang sekitar 100 m saja. Phuket seperti dipisahkan oleh sebuah anak sungai kecil dengan pasir putih dipantainya, sangat menarik.

Sepanjang perjalanan kita bisa melihat masjid dan kuil Budha bergantian, miris apabila mendengar bahwa kaum militan selalu dibasmi dan selalu bergantian memerangi pemerintah lokal. Tapi memang kesenjangan sosial serta eokonomi antara umat Muslim dan Budha di Thailand terlihat timpang. Ekonomi sebagian besar di Thailand selatan dipegang umat Budha dan umat Muslim masih dibatasi dan bahkan dicap teroris. Seharusnya sekat-sekat tersebut ditiadakan mengingat bahwa mereka berasal dari ras yang sama. Agama adalah hubungan antara setiap manusia dengan Tuhan dan kepercayaannya.

Krabi sebuah kota kecil di Thailand selatan memiliki pesona yang memikat selain pantai dengan pasir putihnya juga terdapat gunung-gunung kapur yang diselimuti hutan serta kabut. Serasa pemandangan dilukisan Gui Lin, Cina…dan apabila kalian menonton film Hang Over 2, maka ada scene dari udara pemandangan pegunungan di Thailand Selatan…disanalah Krabi. Perjalanan darat dari Phuket menuju Krabi ditempuh selama 3 jam. Jalanan di Thailand rata-rata mulus dan cukup bersih. Tetapi papan penunjuk jalan kebanyakan ditulis dalam huruf Thai. Mobil di Thailand sangat bagus dan masih baru, maklum pabrikan mobil Jepang seperti Toyota, Honda dan Mitsubishi membuka pabrik dan suku cadang di Thailand. Sehingga harga mobil jepang jaul lebih murah dibanding di Indonesia. Hanya mobil Suzuki APV yang diimpor dari Indonesia oleh Thailand.

Krabi – Hatyai masih harus ditempuh selama 4 jam lagi dan beruntung jok busnya cukup empuk sehingga tidak terlalu membuat pegal di punggung, AC nya juga baik dan cukup aman. Di sepanjang perjalanan kita bisa melihat komunitas muslim yang sangat banyak, wanita-wanita berjilbab dan pria-pria mengenakan kain sarung seperti di Indonesia. Hutan karet dan kelapa sawit bergantian menghiasai perkebunan mereka. Sangat disayangkan apabila hutan karet yang hijau royo-royo digantikan oleh kelapa sawit yang rakus akan air dan zat-zat kesuburan tanah.

Bus berhenti disebuah kota kecil Trang untuk mengisi bensin dan penumpang dipersilahkan turun untuk makan dan minum disebuah cafetaria kecil. Ternyata tiket busnya 50 baht sudah termasuk makan dan minum, sehingga penumpang hanya membayar sisanya saja kepada pemili cafetaria. Saya hanya cukup membayar 100 Bath sisanya untuk 2 orang makan dan minum. Makanannya kebetulan halal sehingga saya tidak khawatir untuk memakannya.

Pukul 07.00 malam bus memasuki pinggiran kota Hat Yai, kota hatyai sendiri merupakan kota bisnis terbesar ke tiga di Thailand. Banyak gedung-gedung tinggi dikota ini dan banyak perusahaan asing membuka pabrik dikota ini. Mengingat jarak yang tidak terlalu jauh dari Kuala Lumpur dan Singapore membuat para pengusaha asing berbisnis dikota ini dibanding harus membuka pabrik di Malaysia atau Singapore yang lebih mahal biaya produksinya.

Hat Yai juga menjadi tempat pelesiran para warga Malaysia untuk jalan-jalan, membeli makanan yang sangat murah disini atau untuk hiburan esek-esek. Wanita Thailand terkenal cantik-cantik sehingga tidak aneh disepanjang jalan banyak ditemukan warung remang-remang atau restauran dengan para wanita bak warung remang-remang di kawasan Pantura, Jawa. Mobil-mobil pribadi berplat nomor Malaysia atau pengemudi truk kontainer parkir didepan warung atau restoran tersebut.

Pukul 08.00 malam kami tiba stasiun bus Hat Yai dan harus melanjutkan perjalanan darat dengan taxi charteran lagi. Ada beberapa mini van menuju ke Penang cuma harus menunggu penumpang penuh dan terlalu sempit sehingga tidak nyaman. Taxi charter dari stasiun bus Hat Yai senilai 600 Baht untuk perjalanan 1 jam menuju ke perbatasan Thailand – Malaysia (Padang Besar).

Ternyata perjalanan dari stasiun bus ke perbatasan cukup jauh dan tidak ada kendaraan umum. Hujan kembali melanda hingga diperbatasan. Semakin dekat keperbatasan, semakin ramai oleh hiruk pikuk pengunjung harian dan para pedagang. Banyak warga Malaysia yang mencari hiburan disaat weekend diperbatasan atau sebaliknya, sehingga mereka mempunyai special pass berupa kertas untuk dicap oleh pihak imigrasi.

Perbatasan Padang Besar, hanya seperti stasiun bus. Tidak ada yang menarik disini. Kami harus turun dari taxi dan berjalan sekitar 15 meter menuju check point Imigrasi Thailand. Bagi pengendara mobil, tanpa harus turun dari mobil untuk dicap paspornya.

Puluhan orang mengantri dan saya harus menunggu sekitar 30 menit untuk dicap. Sambil mengantri saya melihat beberapa orang memasukan uang ringgit kedalam paspor. Ternyata mereka memasukkan RM 2 kedalam paspor agar petugas imigrasinya tidak tanya macam2. Beruntung saya masih memiliki uang pecahan kertas RM 20 dan RM 1. Saya lalu mengikuti mereka dan menyelipkan RM 2 kedalam paspor. Sesampainya didepan petugas imigrasi “uang salam tempel” nya memang manjur. Si petugas tanya dengan bahasa melayu logat Thai,”yang benar Orang Indonesia atau Indonesia Orang?” Saya jawab, “Orang Indonesia”. Dan ia tersenyum dan langsung mencap paspor saya. Lancar jaya…

Ternyata korupsi memang membuat lancar bisnis. Tidak ada bus berhenti didekat perbatasan seperti yang tertulis di internet. Tidak jauh ada sebuah taxi Malaysia berwarna merah putih dan saya mendatangi sang supir. Saya tanyakan rute yang akan dituju dan biaya yang harus dibayarkan. Taxi dari Padang Besar – Air Hitam – Georgetown harus dibayar sebanyak RM 260 dan saya mendapatkan RM 250.

Setelah naik taxi, kami harus melewati Malaysian Check Point. Sekali lagi harus diperiksa paspornya dan mengisi arrival and departure form. Tidak sampai 10 menit, sudah beres dan tidak perlu ada uang salam tempel. Tapi harus hati-hati jangan sampai paspornya tidak dicap. Karena sedang ramai dibicarakan di Malaysia tentang kasus petugas imigrasi di perbatasan Johor Bahru – Singapore terhadap warga negara Singapore yang berkunjung ke Malaysia. Karena tidak dicap, entah disengaja atau tidak, WN Singapore didenda dan sempat mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari petugas imigrasi Malaysia sehingga ia melaporkan kasus ini kepada negara.

Petugas imigrasi hanya menanyakan apa isi kopernya, dan hanya bilang baju dan souvenir, kami langsung bisa masuk wilayah Malaysia. Perjalanan dari perbatasan Malaysia – Thailand ke kota Georgetown, Penang harus ditempuh selama 3 jam melalui Lebuh Raya atau jalan tolnya Malaysia.

Karena kehabisan uang, kami menyempatkan diri mampir ke ATM di air hitam. ATM CIMB Malaysia tidak bisa menerima kartu debet BCA saya sehingga harus mencari ATM lain yang menerima logo Cirrus. Akhirnya saya bisa mengambil yang tunai dalam bentuk ringgit di ATM Maybank dariĀ  ATM BCA saya. Dan ternyata cukup mudah ya, serta chargenya hanya Rp 25,000/transaksi. Jadi kalau tidak bawa uang tunai, cukup gunakan ATM kalian saja yang berlogo Cirrus/Visa/Master dan pasti bisa mengambil uang tunai selama masih ada saldonya. Pak supir yang bernama Hashim sangat baik hati sekali, ia membelikan kami makanan kecil dan air mineral. Alhamdullilah…amalan baik membawa nasib baik bagi saya. Beliau sangat ramah dan baik sekali.

Hujan deras dan angin kencang menerpa selama perjalanan dijalan tol dan kami beristirahat sejenak di rest area Kota Sarang Semut. Beberapa mobil dan penumpang yang kelelahan parkir di rest area. Kami segera menuju cafetaria sambil membawa payung karena hujan masih belum mau reda. Saya memesan nasi lemak seharga RM 5 dan kopi panas seharga RM 1.5 saja. Rasa lapar akibat udara dingin bisa hilang seketika. Istirahat selama 30 menit membuat badan terasa segar dan pak Hashim sangat komunikatif sekali.

Pukul 00.00 kami mulai memasuki Penang Bridge dan hujan masih belum reda juga. Ketika memasuki kota George town, terasa sepi sekali kota tersebut. Bangunan tua berjejer dan seperti kota mati. Hanya 1 atau 2 bar yang masih buka dengan beberapa turis asing. Saya masih harus mencari hotel untuk menginap dini hari itu. Ketika saya memasuki sebuah guest house, si pemilik dengan sombongnya bertanya, you want cheap or expensive? Tentu saya katakan “cheap” karena hanya butuh beberapa jam saja di Penang. Dia bilang, no cheap, full….

Mentang-mentang banyak turis backpacker di kota Georgetown, ia menyamaratakan saja. Akhirnya saya memilih sebuah butik hotel “Banana Boat” dengan desain bangunan peranakan yang sudah berumur seratus tahun lebih dan seharga RM 156 permalam termasuk breakfast for two.

Setelah membayar ongkos taxi kepada pak hashim senilai RM 260, saya meminta beliau untuk menjemput kami dihotel menuju ke bandara sehingga tidak perlu untuk mencari taxi lagi. Dan beliau menyetujuinya karena ia harus mencari penumpang untuk kembali ke border.

Rasa kantuk yang melanda memaksa saya untuk cepat tidur….zzzzzzzz…

Pagi hari pukul 07.30 sudah harus bangun dan bergegas untuk menikmati makan pagi di hotel. Penang cukup cerah minggu pagi itu setelah didera hujan deras. Masih terasa sepi kota tersebut karena hari minggu sebagian besar toko tutup karena banyak yang pergi ke gereja untuk beribadah. Tidak jauh dari hotel terdapat gereja dan sekolah Katolik St. Fransiskus Xaverius. Ordo yang sama dengan sekolah saya waktu kecil dari TK – SMA di Jakarta.

Pukul 08.00 kami packing dan tidak lupa foto2 didalam bangunan gedung hotel yang sudah tua. Patung-patung kong hu cu menghiasi beberapa bagian ruangan dan kaca patri menghiasi atap gedung hotel. Sangat nyaman berada dihotel ini, tidak ada terkesan angker.

Pukul 09.00 kami sudah harus tiba dibandara untuk bagasi dan imigrasi, pak Hashim dengan setia menunggui kami didepan hotel dan siap membawa kami ke bandara. Perjalanan yang sangat menyenangkan dan tidak terlupakan bagi saya….3 Negara,3 Tempat dan berbagai pengalaman menarik. Saya ingin kembali ke Penang dan Bangkok….tapi tidak ke Phuket….

Saya jadi ingat ramalan zodiak gemini di awal tahun 2011…gemini akan mempelajari kebudayaan yang berbeda dari serangkaian perjalanan dan percaya atau tidak, saya sudah mempelajari beberapa kebudayaan yang berbeda dari perjalanan wisata ini.

Thanks to Allah SWT for HIS blessing that I can do this trip…

2 thoughts on “Penang, Bangkok, Phuket – The Border

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s