Penang, Bangkok, Phuket – part Three

Bangkok – 7 Oktober 2011, pukul 08.40 malam kami harus sudah take off dengan pesawat airasia menuju Phuket selama 1,5 jam. Kereta Express link yang membawa kami tepat waktu tiba dibandara dan harus segera melakukan check in bagasi. Selesai memasukan bagasi dan overweight dikenakan charge 500 Baht, kami segera menuju ruang tunggu.

Sebelum memasuki ruang tunggu, kami harus melewati pemeriksaan bagasi yang hand-carry oleh petugas bandara. Seketika alarm berbunyi, dan seorang petugas bandara berwajah sangat menghampiri saya dan mengambil tas koper dengan paksa. Saya diminta untuk mengikutinya ke sebuah meja kecil dan setelah ia menaruh tas koper, petugas menyuruh saya membuka koper. “Open your bag, please”, pintanya dengan serius. Saya jadi teringat serial di TV “Bang Up Abroad” yang berkisah tentang para pelaku penyelundup narkoba dari seluruh dunia.

Saya buka koper dan ia segera memeriks dengan seksama isi koper saya. Satu buah body spray Nike, minyak kayu putih dan sanitizer soap segera dimasukan kedalam tas plastik. Dan ia meninggalkan begitu saja menuju ke baggage detector. 3 menit kemudian ia kembali dan menunjuk kepada body spray saya bahwa benda tersebut tidak boleh dibawa masuk kedalam pesawat tetapi minyak kayu putih dan sanitizer soap diperbolehkan.

Arghh….hilang sudah body spray Nike saya…teman saya bahkan harus merelakan pasta giginya. Pemeriksaan di bandara Bangkok lebih ketat dibanding di Jakarta/Kuala Lumpur/Singapore…mengingat sudah beberapa kali bandara ini diancam para teroris serta penyelundupan narkoba. Hal ini menjadikan pengalaman berharga, untungnya niat membeli parfum di duty free ditiadakan.

Tanpa harus melewati ruang imigrasi karena kami akan Phuket jadi hanya terminal domestik yang letaknya agak jauh dari terminal international. Tapi sangat bagus dan sangat rapi, acungan jempol buat pemerintah Thailand yang sudah membangun bandara hebat ini. Salute

Ruang tunggunya sangat nyaman, disediakan LCD TV dan majalah dengan bahasa Thai. Pukul 08.00 malam kami boarding dan siap terbang ke Phuket. Tiba dibandara Phuket sekitar pukul 10.00 malam dan tidak terlalu besar bandaranya, sama seperti terminal domestik Ngurah Rai. Sebelum menuju ke hotel, saya masuk ke toko kelontong dalam bandara untuk membeli minum dan si penjual seorang wanita cantik mengenakan jilbab. Wah saya baru ingat bahwa Thailand selatan banyak terdapat umat muslim. Di Bangkok hanya 1-2 orang wanita yang saya lihat memakai jilbab.

Tidak ada taxi bandara dibandara Phuket, sehingga harus menggunakan taxi charteran. Jarak tempuh dari bandara Phuket ke Patong Beach selama 1 jam perjalanan dengan taxi. Harga taxi dihitung perorang dan total kami dikenakan harga 650 Baht. Kalau ada uang pas gunakan uang pas karena saya memberi 700 Baht dan 50 Baht tidak dikembalikan, karena dianggap fee untuk mereka membawa tas koper.

Sebuah mobil camry keluaran terbaru siap membawa kami ke hotel. Sang supir membawa mobil camry otomatis dengan kecepatan tinggi 100 – 140km/jam ditengah jalan yang agak sepi dan berkelok-kelok. Jujur agak ngeri juga mengingat Phuket bukan tempat asal kami.

Tapi tiba-tiba sang supir berhenti disebuah kantor travel agent, dan ia segera turun begitu saja dan masuk kedalam ruangan kantor. Kami hanya terdiam dan bingung. Beberapa saat kemudian seorang wanita keluar dan membuka pintu sambil menyapa kami.

“Selamat malam, selamat datang di Phuket”. Dan ia menanyakan asal kami, berapa lama di Phuket, tinggal dimana dan ujung-ujungnya ia menawari paket tour ke Phi Phi Island dan Bon Island serta paket tour lainnya. Dengan halus kami menolak karena sudah mengambil paket tour ke Phi Phi island melalui hotel yang kami pesan secara online di agoda.com. Kemudian ia dengan sopan permisi dan masuk kedalam kantor.

Tiba-tiba sang supir membuka pintu depan dan memaki-maki teman saya karena kami tidak membeli paket tour ditempatnya. Ia ngoceh dengan bahasa Thai dan kemudian teman saya tersinggung dan membanting pintu. Si supir tambah marah dan membuka pintu dengan paksa sambil memaki-maki bahwa ini Thailand, dan teman saya harus bersikap sopan. Kejadian malam itu membuat kami tertegun dan ketakutan.

Wanita travel agent keluar dan menenangkan supir tersebut, dan ia kembali ke dalam mobil sambil memaki-maki teman saya tidak karuan dengan bau alkohol keluar dari mulutnya. Ternyata kami mendapat supir setengah mabuk. Ia kemudian melaju mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi sambil ngoceh tidak karuan. Bau alkohol segera menyeruak didalam mobil ber AC malam itu. Yang saya pikirkan apabila ia berbuat jahat kepada kami.

Ketiba hampir tiba dihotel, ia meminta maaf pada saya dan menyalami tangan saya, sementara kepada teman saya, ia masih memaki-maki tidak karuan dengan bahasa Thai. Sepertinya ia tersinggung ketika teman saya membanting pintu mobil yang secara paksa ia buka. Ternyata harus berhati-hati ketika pesan taksi didaerah phuket. Jangan sampai kejadian buruk terjadi lagi. Pastikan bahwa sang supir tidak dalam keadaan mabuk minuman beralkohol.

Kami selamat tiba dihotel pukul 11.45 malam dan kemudian check in. Di kamar hotel 7 Q Patong Beach, saya tertegun dan ingin segera mandi air hangat dan melupakan trauma sesaat yang terjadi. Teman saya mengetuk pintu kamar dan ia minta maaf atas perbuatannya, kami harus menanggung kejadian tadi. Sebenarnya teman saya tidak terlalu salah, kalau salah memang betul ia salah kerana tidak berbuat sopan dinegri orang. Belum tentu hal biasa yang kita lakukan di negri sendiri, ternyata menyinggung perasaan orang lain dinegri orang. Pengalaman adalah guru terbaik.

Pagi hari hujan melanda Phuket dan mengganggu jadwal kami ke Phi Phi Island, Patong beach diguyur hujan deras seharian. Patong Beach seperti pantai di Legian…kalau boleh jujur, Bali masih lebih bagus dibanding Phuket. Keindahan Phi Phi island hanya kelebihan dari Phuket.

Dari atap hotel 7 Q, kami bisa menikmati bukit-bukit hijau disekitar Patong Beach yang masih dikelilingi kabut sementara dibelakang kami adalah lautan lepas dengan ombak yang besar dan hujan yang terus melanda. Terbayang ketika tsunami melanda pantai ini dan merenggut ratusan nyawa wisatawan asing dan penduduk lokal.

Phi Phi island kali ini terlewatkan oleh saya…..dan kemungkinan ini adalah terakhir kali saya menginjakkan kaki di Phuket setelah peristiwa yang tidak mengenakan tersebut. Saya selalu kangen dengan Bali….disanalah keindahan berasal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s