Minggu Pagi di Victoria Park

June 12, 2010 – Sabtu Malam di Slipi Plaza, it’s my birthday and I wanna spend my time to see a movie and dinner with someone. Tertarik dengan sebuah film yang dibesut oleh sutradara wanita muda Indonesia yang cantik dan berbakat, Lola Amaria. Sebelumnya saya sempat membaca sinopsis film ini yang menceritakan para Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di Hongkong berikut dengan segala macam pahit getirnya kehidupan mereka.

Lola yang berperan sebagai Mayang harus mencari adiknya (Titi Sjuman) yang sudah bekerja sebagai TKW diHongkong dan kini tiada kabarnya. Sedikit demi sedikit kehidupan para TKW Indonesia yang bekerja diHongkong digambarkan dalam gambar yang indah. Saat hari minggu mereka berkumpul di Victoria Park untuk bertemu dengan teman-temannya dari Indonesia. Harfi minggu di Hongkong merupakan hari libur bagi para pekerja immigrant dari Indonesia, Filiphina, Bangladesh, Pakistan dan India. Mereka sendiri saling membentuk komunitas untuk mempererat persaudaran dan pengobat rasa rindu akan tanah air.

Kehidupan Lesbian antar para TKW Indonesia juga digambarkan secara natural, dan sebenarnya saya sudah melihat cerita ini melalui film Pertaruhan ditahun 2009. Tetapi Lola memasukkan cerita ini sebagai realitas kehidupan nyata yang benar terjadi di antara sesama TKW Indonesia di Hongkong. Termasuk kisah para wanita Indonesia yang sering dikibuli oleh pasangan prianya dari negri Bangladesh/Pakistan yang katanya mirip dengan pemain film India.

Sedih rasanya melihat kehidupan keras para TKW di Hongkong terlebih lagi setelah saya tahu bahwa mereka di 7 (tujuh) bulan pertama tidak menerima gaji senilai HK $3.500 atau senilai Rp 4-5 juta. Bayangkan keuntungan yang diperoleh para PJTKI di Indonesia atas hasil keringat para TKW tersebut dan belum lagi tuntutan keluarga mereka yang berharap bahwa anak atau istri mereka yang bekerja sebagai TKW diluar negeri akan membawa perubahan ekonomi bagi mereka dan membawa prestige sendiri. Sementara mereka diluar negeri harus jatuh bangun, jadi tidak aneh apabila mereka ingin mempunyai kehidupan sendiri.

Victoria Park ibarat taman bermain yang bebas bagi para TKW, dihari minggu mereka bisa melampiaskan apa yang selama ini di Indonesia mereka tidak pernah rasakan. Berpakaian minim dan serba mode terbaru, berciuman dengan pacar mereka secara terbuka didepan umum…they can do it here. Walau banyak dari mereka yang berkumpul dan mendapatkan siraman rohani atau hal yang positif. Ditaman ini lah semua rasa menjadi satu dan tempat berbagi informasi antar sesama atau pekerjaan.

Salute bagi Lola yang berani mengangkat film ini dan dituangkan menjadi sebuah film yang cantik n menyentuh hati. Titi Sjuman bermain sangat natural and gosh she’s very sexy at this movie. Mungkin buat saya..difilm ini Titi bermain hampir sempurna dan ia layak mendapatkan nominasi Piala Citra 2010 ini dan mungkin ia akan mendapatkan Best supporting actress di Festival Film Asia lainnya.

Tidak terasa film ini sudah berakhir dan membukakan mata setiap penontonnya. Saya jadi teringat kejadian 4 tahun lalu ketika menjemput saudara saya yang baru pulang jadi TKI di Seoul. Ketika menjemputnya di Terminal 2 International pukul 23.00, ternyata saudara saya harus dipindahkan keterminal 4 di Bandara Soekarno Hatta dengan alasan administrasi. Untuk menjemputnya dan mengeluarkan saudara saya dari terminal 4 harus membayar sejumlah uang kepada pihak otoritas bandara. Drama penjemputan baru berakhir pukul 02.30 WIB, rasa penat dan sedih befrcampur menjadi satu ketika saudara saya bercerita apa yang dia alami ketika turun darim pesawat, dipisahkan oleh petugas bandara, disuruh menunggu dan membayar uang administrasi.

Belum lagi ketika saya turun dari pesawat KL – Jakarta dibandara Soekarno Hatta, petugas bandara langsung memasang badan dan membuat mimik muka yang galak dengan para TKW yang baru turun dari Malaysia. Seperti kucing melihat ikan segar dimatanya….yang ingin segera menerkam, padahal belum tentu mereka tiba di Jakarta membawa uang yang banyak. Getir rasanya melihat mereka diperlakukan secara berbeda dengan penumpang lain. Beginilah nasib para penghasil devisa.

Tapi kini para TKW pasti lebih pintar dengan berbagai kejadian dibandara, mereka dengan mudahnya mengirimkan uangnya dengan berbagai moda transfer, sehingga hasil jerih payah mereka tidak hilang. Mungkin suatu hari nanti harus ada kebijakan yang jelas bagi para TKW mulai dari masalah pemotongan gaji, asuransi kesehatan dan beberapa kemudahan yang patut mereka dapatkan sebagai pahlawan devisa. Di Filiphina, para TKW diberlakukan bak pahlawan ketika tiba dibandara dan dilindungi secara hukum. Tidak aneh apabila Presiden Filiphina sampai turun tangan apabila ada kasus hukum yang menjerat TKWnya.

And we dont care…sudah banyak hal buruk yang terjadi terutama para TKW yang bekerja di Timur Tengah. Apabila saya jadi Presiden, mungkin pengiriman TKI ke Timur Tengah akan saya hentikan dan dipindahkan ke negara yang mempunyai hukum yang jelas seperti di Hongkong atau Singapura.

Makasih yang Lola dan saya doakan agar film ini mendapatkan berbagai macam penghargaan film dari Indonesia dan Luar Negeri. Agak miris ketika saya melihat daftar studio film 21 yang memutarkan film ini, sebagian besar dibioskop kelas B+ dan bukan dicineplex kelas A+ yang seharusnya pantas memajang besar film ini dan layak ditonton oleh masyarakat banyak. Saya tahu karena memang ada semacam monopoli dan dana yang besar untuk menempatkan film ini sejajar dengan film Sex n The City 2 dibioskop A+.

Terakhir saya doakan agar film ini laku keras sehingga kamu n produser juga bisa BEP…hehhee. Jangan kapok bikin film yang bermutu ya, Lola! Carpediem……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s