Minggu Pagi di Saigon – part One

Jakarta, 26 November 2011, waktu yang ditunggu telah tiba. Penerbangan ke Ho Chi Minh atau Saigon akan dimulai dalam waktu beberapa saat lagi. Sabtu siang, saya segera meluncur ke Terminal 3 Soekarno Hatta Airport karena takut terhadang macet akibat pesta pernikahan anak orang nomor 1 di Indonesia. Pukul 15.30 saya sudah tiba di terminal 3 dan berjumpa dengan rekan2 yang siap berangkat ke Saigon. Dan penerbangan harus tertunda selama 1 jam dari seharusnya berangkat pukul 16.40 menjadi 17.40 WIB. Hampir satu pesawat airasia penuh oleh penumpang dari Jakarta dan warga Vietnam yang ingin balik setelah melihat Sea Games di Jakarta.

Pukul 20.40 kami mendarat di Tan Son Nhat International Airport, yang cukup mengagetkan ketika hendak mendarat, para penumpang yang khusunya warga negara asing tidak diberikan slip dokumen imigrasi untuk arrival/kedatangan. Jadi ternyata khusus untuk berkunjung ke Vietnam, para wisatawan asing tidak perlu mengisi slip dokumen kedatangan seperti kita mau masuk ke Malaysia, Singapore atau Thailand. Hmmm…mungkin negri ini tidak mengkhawatirkan pendatang asing seperti di negri jiran.

Bandaranya cukup modern dan bersih, selesai dibangun bulan September 2007 dan dapat menampung 8 – 10 juta penumpang setahun. Cukup terkejut dan takjub melihat pemerintah Vietnam bisa membangun bandara yang modern. Ketika selesai dari pihak imigrasi, kami berempat segera menuju ke money changer. Sangat disarankan ketika berkunjung ke Vietnam, Anda sudah siap menukarkan rupiah ke USD sehingga ketika tiba dibandara langsung menukarkan USD ke mata uang Dong Vietnam yang seharga 1 USD = 21,000 DNV atau setara Rp 1 = 2,5 DNV. Jadi saya mendapatkan uang sebanyak 2,100,000 Dong Vietnam untuk setara 100 USD. Uang pecahan Dong, dimulai dari 10 ribu, 20 ribu, 50 ribu, 100 ribu dan 200 ribu. Mintalah uang pecahan kecil ketika anda menukarkan USD dan lebih baik menukarkan di bandara dan jangan dihotel karena bedanya sekitar 50,000 Dong.

Selesai menukarkan uang, kami menuju taxi rental yang terdapat didalam bandara. Ada dua taxi terkenal yaitu Vinasun dan Mailinh. Tarif taksi dari bandara menuju ke hotel di Ben Than Market yaitu 150,000 DNV dan dengan waktu tempuh 45 menit. Karena kami berempat, jadi taxinya berupa Toyota Kijang, sehingga cukup lega untuk kami berempat dan bisa menaruh barang. Semua mobil di Vietnam ternyata memakai stir mobil di kiri, sama seperti di Amerika Serikat. Padahal semua negara di asia tenggara memakai mobil stir kanan bukan di kiri, maklum mereka jajahan Perancis dan USA.

Malam minggu di Saigon, sangatlah ramai. Hampir 90% jalanan dikuasai oleh pengendara motor terutama kamu muda mudi. Dan mereka sangat terbuka sekali ketika berpacaran disepanjang taman-taman kota di Saigon. Para wanita sedang ngetrend celana atau rok super mini dan helm motor mereka masih bukan helm SNI, masih pakai helm cepol atau helm proyek. Perjalanan tersendat karena ramainya penduduk Saigon yang bermalam minggu.

Pukul 22.00 kami tiba dihotel Hoang Hai Long 2 yang hanya terletak 10 meter dari pasar Ben Than yang terkenal. Namun sayangnya malam itu, hotel sedang mengalami kerusakan pipa air sehingga tidak ada air dilantai atas sehingga kami harus dipindahkan ke hotel yang sama dengan tempat yang berbeda. Kami kembali menaiki mobil dengan supir taksi yang tidak mengerti bahasa Inggris sehingga harus menggunakan bahasa isyarat dan dibantu dengan petugas hotelnya.

Hotel Hoang Hai Long 1 cukup bersih dan menyenangkan, rujukan buat Anda yang hendal berkunjung ke HCMC atau Saigon. Kami berempat mendapatkan kamar dilantai yang berbeda, ketika memasuki kamar, saya merasa nyaman dengan kamar mandi bathtub, TV, dll. Setelah rehat sejenak, mandi dan ganti pakaian, kami melanjutkan keluar hotel.

Kota Saigon baru saja dibasahi oleh hujan dan kotanya tetaplah ramai. Dari hotel, kami berjalan sekitar 15 menit menuju ke pasar malam samping Ben Than Market. Sejumlah pedagang menjajakan baju hingga pernak-pernik souvenir vietnam. Tips: jangan lupa menawar dan bawa kalkulator. Harga barang dipasar malam ini lebih mahal dibanding harga barang di pasar Ben Than. Pasar Ben Than hanya buka dari jam 06.00 – 17.00 dan waktu Saigon sama dengan waktu Jakarta.

Saya dan teman sempat dibohongi ketika berniat membeli sebuah kaos bergambar bendera Vietnam. Kaos dengan kualitas yang biasa dihargai 390,000 DNV dan saya menawar 150,000 DNV. Ternyata esok paginya, saya mendapati kaos tersebut dengan material yang sama dihargai hanya 60,000 DNV saja setelah ditawar. Jadi seharusnya kami berdua, masing-masing mendapatkan 2 buah kaos. But it’s okay, finally we know the price.

Kemudian kami mencari makan malam, menu makan malam berupa nasi goreng sea food. Dan berhati-hatilah karena kebanyakan non halal alias mengandung babi. Bagi yang muslim, kalian bisa makan didepan hotel Hoang Hai Long karena ada resto halal dan bukanya hanya malam hari saja. Menu makanan halalnya tidak terlalu banyak tetapi cukup untuk makan, dan esoknya bisa makan KFC atau junk foods lainnya.

Setelah selesai makan malam yang seharga nasi goreng seafood 35,000 DNV + air kelapa 15,000 DNV = total 50,000 DNV sangatlah murah seharga Rp 25,000 buat wisatawan asing. Dan kini waktunya tidur untuk menikmati kota Saigon diminggu pagi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s